Setiap
menjelang ulangan umum, banyak orangtua mulai was-was. Maklum, di saat-saat
itu, para orangtua merasa perlu memacu anak-anaknya untuk lebih rajin belajar.
Harapannya, agar anak-anak mereka bisa mencapai nilai yang bagus dan memperoleh
peningkatan (rangking) yang bagus pula.
Anggapan
banyak orangtua, bahwa nilai yang tinggi, bisa di jadikan indikasi keberhasilan
hidup si anak. Makin tinggi pemeringkatan atau prestasi anak yang diraih, makin
besar pula sukses hidup yang diraih si anak. Karena itu, tidak mengherankan
bila banyak orangtua akan memaksa anak-anaknya untuk belajar keras, agar bisa
mencapai nilai yang tinggi. Cara berpikir seperti ini, adalah cara berpikir
sederhana dari sebagian besar orangtua Indonesia dalam memahami pendidikan.
Lantas,
apakah orang yang memiliki IQ atau pengetahuan yang tinggi akan sukses dalam
meraih masa depannya ? apakah mereka yang mempunyai IQ rendah, tidak berhasil
dalam hidupnya ?
Belum
tentu. Dalam buku Emotional Intelligence
(Kecerdasan Emosi/Mental), menyatakan bahwa “Keberhasilan hidup seseorang, 20 persen ditentukan oleh IQ dan 80
persen ditentukan oleh Emotional Intelligence”.
Keberhasilan
hidup, lebih banyak ditentukan bagaimana seseorang mampu membawa diri, berpikir
kristis, mampu mengolah emosi (sabar, pantang menyerah, optimis, kerja keras),
mampu menempatkan diri dalam hubungan dengan orang lain.
Contoh
spesifik, banyak pejabat yang pintar tersandung kasus KORUPSI
Atau dengan kata lain, punya IQ tinggi, tapi EQ rendah.
Masalah korupsi merupakan masalah ketidakjujuran..berdasarkan emotial
intelligence, sejak kecil, anak di ajarkan, kalau ujian, tidak mampu lagi kerja
soal, lebih baik menyontek saja. Ketidakjujuran terbawa hingga besar dan bisa
merugikan banyak orang. Good Reading…
PINTAR SAJA TIDAK CUKUP
Berbagai
pengalaman menunjukkan, banyak anak yang “berhasil” di sekolah atau tergolong
anak pandai dan juara kelas, ternyata tidak berhasil dalam kehidupan.
Sebaliknya, ada anak yang tidak terlalu pandai, namun karena memiliki kemampuan
sosial yang lebih baik, ia lebih berhasil dalam mengarungi hidup di masyarakat.
Apa
yang sebaiknya dilakukan ?
Bagaimana
mengembangkan seorang anak agar ia memiliki intelegensi yang tinggi sekaligus
memiliki wawasan yang kaya, tahu sopan santun dan bisa membawa diri, serta amat
manusiawi yang memiliki intelegensi emosi yang penuh (dapat berempati,
menngontrol emosinya). Dengan kemampuan mengontrol emosinya (sabar, tenang
mengahadapi segala sesuatu, rajin, kerja keras, sopan santun, tanggung jawab),
hal bersangkutkan dapat memotivasi diri sendiri, sehingga mampu mandiri.
Memberikan mereka kesempatan berpikir kristis, mengajar anak untuk lebih
berhati-hati, mengajar anak dalam memecahkan
berbagai masalah, bisa di rumah maupun disekolah. Melalui cara-cara ini,
anak akan diajari bagaimana menentukan pilihan, memecahkan masalah dan
strategi. Membiasakan anak mengambil keputusan sendiri, melatih anak untuk
berpikir melihat berbagai kemungkinan. (contoh : ketika anak melanjutkan
tingkat SMA, orangtuanya sakit, apa yang dia lakukan, dengan emosi anak yang baik,
anak bisa mandiri, dapat membantu kedua orangtua).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar