Terima kasih bagi para pembaca yang
sudah meluangkan waktunya untuk menikmati makanan spesial yang saya suguhkan
buat anda yaitu pendidikan karakter anak. Tentu pasti anda sebagai orangtua
sayang kepada anak anda karena anak yang Tuhan berikan adalah upah.
Oke langsung saja kita membahas
masalah persaingan saudara sekandung secara umum adalah hal yang wajar. Karna
proses di mana anak belajar untuk saling memiliki dan mencintai.
Persaingan
saudara sekandung menjadi masalah terganggunya sosial-emosional anak jikalau
orangtua lalai dalam memperhatikan masalah tersebut.
![]() |
| Gambar : persaingan saudara sekandung |
Persaingan saudara sekandung muncul
karna adanya konsep Pilih Kasih orang
tua terhadap anak-anaknya. Ada 4 penyebab pilih kasih : Pertama, faktor kesamaan dengan orangtua :
mis, anak memiliki kesamaan sifat dengan ibunya sehingga si ibu lebih sayang
padanya, atau si anak tak disukai lantaran memiliki sifat ayanya yang dibenci
oleh si ibu. Kedua, Riwayat Kehamilan, karena kehamilan sangat diharapkan, maka
setelah lahir, si anak menjadi kesayangan orang tua. Sebaliknya jika kemahilan
yang tak diharapkan (aku mau anak perempuan, eh pas lahirin anak laki-laki), orang
tua menjadi sebal pada si anak. Ketiga, Anak “Istimewa”. Karena takut
kehilangan anak maka anak itu sangat berharga. Bahkan karna bakat hebat yang
dimiliki si anak, orang tua lebih menaruh perhatian kepada anak berbakat itu.
Keempat, faktor budaya. Adanya nilai2 yang mementingkan jenis kelamin tertentu
yang harus diperhatikan secara serius.
Dampak Pilih Kasih orangtua
terhadap anak sebagai berikut :
- Merasa diabaikan dan tak dicintai orangtua.
- Kesal dan cemburu pada si “anak istimewa”.
Timbulnya ketegangan diantara dua pihak yang terus bersaing
merebut perhatian orangtua dengan pancingan prilaku kedua anak tsb.
- Melampiaskan rasa marah anak kepada orangtua melalui “anak istimewa”.
Tindakan agresif anak bias muncul dan biasanya terjadi
perkelahian secara fisik bahkan verbal (biasanya pada anak laki-laki) seperti
saling memukul, menendang, melempar mainan dan saling mengganggu.
- Hubungan sosial dengan lingkungan sosial terganggu.
Anak merasa tidak nyaman komunikasi dengan orang lain. Karna
kebutuhan afeksi /kasih saying belum terpenuhi. Disisi lain anak harus berbagi
kasih kepada orang lain.
- Meniru sikap orangtuanya
Anak akan meniru sikap orangtua ketika mereka sudah berumah
tangga nanti. Alasan utamanya karna orang tua adalah orang kepercayaan anak.
- Muncul konsep diri negatif pada anak.
Anak
memandang sebagai seorang yang tak berarti, ia menjadi pasif dan apatis. Itu
sudah dapat dirasakan anak kira-kira usia 1;5-2 thn. Bahkan timbul rasa
ragu-ragu dan malu dan rasa itu semakin strong
/kuat di usia sekolah.
Apa yang sebaiknya
dilakukan ??
- Hilangkan konsep pilih kasih. Hati anda harus berkata bahwa anda memperlakukan anak-anak anda dengan adil dan penuh kasih sayang.
- Sediakan waktu anda anda untuk anak yang merasa terbuang. Misalnya, sambil anda sibuk menyuapi makanan pada anak bungsu anda, anda bisa memuji anak sulung yang sedang meminta penilaian anda akan hasil mewarnainya. Bukan menunda pujian karena anda sibuk menyuapi anak bungsu anda.
- Gunakan kata-kata bijak : Hindari penggunaan kata-kata yang bersifat mengutamakan ataupun mendahulukan kepentingan/kebutuhan salah satu anak. Agar anak tidak punya pikiran bahwa orangtuanya pilih kasih. Contoh : Kevin : (cemburu), mama koh kasih Tio uang 80 ribu..sie??? koh aku dikasih hanya 20 ribu saja. Mama (kata-kata bijak) : Nak sayang, mama kasih ke Tio uang 50 ribu untuk membeli sepatu baru, karena sepatu Tio yang lama sudah rusak dan harga sepatu di Toko khusus anak2 dijual dari harga 50 – 90 ribu; sepatu Kevin kan masih baru..mama kasih 20 ribu untuk beli buku baru buat Kevin karna Kevin kan sudah masuk semester yang baru”. Believe or not, kata-kata bijak anda tidak sia-sia.
- Perlakukan masing-masing anak secara unik : aneh kan, maksud saya beri alasan mengapa anda harus memberi perhatian lebih kepada anak yang satu dari pada anak yang lain. Misalkan : karena anak itu masih bayi sehingga harus diperhatikan lebih sedangkan anak yang satu sudah umur 8 thn. Kalau alasannya jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti anak..pasti anak menghargai itu.
Demikianlah pembahasan kita kali ini dan salam hangat
keluarga Indonesia.
By
: Astian Leba (Mhs PAK)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar