Selasa, 06 Mei 2014

PERSAINGAN SAUDARA SEKANDUNG (WHY ????)



           Terima kasih bagi para pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk menikmati makanan spesial yang saya suguhkan buat anda yaitu pendidikan karakter anak. Tentu pasti anda sebagai orangtua sayang kepada anak anda karena anak yang Tuhan berikan adalah upah.
        Oke langsung saja kita membahas masalah persaingan saudara sekandung secara umum adalah hal yang wajar. Karna proses di mana anak belajar untuk saling memiliki dan mencintai.
Persaingan saudara sekandung menjadi masalah terganggunya sosial-emosional anak jikalau orangtua lalai dalam memperhatikan masalah tersebut.
Gambar : persaingan saudara sekandung
     Persaingan saudara sekandung muncul karna adanya konsep Pilih Kasih orang tua terhadap anak-anaknya. Ada 4 penyebab pilih kasih : Pertama, faktor kesamaan dengan orangtua : mis, anak memiliki kesamaan sifat dengan ibunya sehingga si ibu lebih sayang padanya, atau si anak tak disukai lantaran memiliki sifat ayanya yang dibenci oleh si ibu. Kedua, Riwayat Kehamilan, karena kehamilan sangat diharapkan, maka setelah lahir, si anak menjadi kesayangan orang tua. Sebaliknya jika kemahilan yang tak diharapkan (aku mau anak perempuan, eh pas lahirin anak laki-laki), orang tua menjadi sebal pada si anak. Ketiga, Anak “Istimewa”. Karena takut kehilangan anak maka anak itu sangat berharga. Bahkan karna bakat hebat yang dimiliki si anak, orang tua lebih menaruh perhatian kepada anak berbakat itu. Keempat, faktor budaya. Adanya nilai2 yang mementingkan jenis kelamin tertentu yang harus diperhatikan secara serius.
        Dampak Pilih Kasih orangtua terhadap anak sebagai berikut :
  • Merasa diabaikan dan tak dicintai orangtua.
Biasanya anak sering memunculkan tingkah laku untuk menarik perhatian orangtua anak seperti menarik, berguling-guling dilantai dan perilaku lainnya. Biasanya orangtua menegur dan anak merasa mendapat perhatian walaupun terpaksa.
  • Kesal dan cemburu pada si “anak istimewa”.
Timbulnya ketegangan diantara dua pihak yang terus bersaing merebut perhatian orangtua dengan pancingan prilaku kedua anak tsb.
  • Melampiaskan rasa marah anak kepada orangtua melalui “anak istimewa”.
Tindakan agresif anak bias muncul dan biasanya terjadi perkelahian secara fisik bahkan verbal (biasanya pada anak laki-laki) seperti saling memukul, menendang, melempar mainan dan saling mengganggu.
  • Hubungan sosial dengan lingkungan sosial terganggu.
Anak merasa tidak nyaman komunikasi dengan orang lain. Karna kebutuhan afeksi /kasih saying belum terpenuhi. Disisi lain anak harus berbagi kasih kepada orang lain.
  •  Meniru sikap orangtuanya
Anak akan meniru sikap orangtua ketika mereka sudah berumah tangga nanti. Alasan utamanya karna orang tua adalah orang kepercayaan anak.
  • Muncul konsep diri negatif pada anak.
Anak memandang sebagai seorang yang tak berarti, ia menjadi pasif dan apatis. Itu sudah dapat dirasakan anak kira-kira usia 1;5-2 thn. Bahkan timbul rasa ragu-ragu dan malu dan rasa itu semakin strong /kuat  di usia sekolah.
           
Apa yang sebaiknya dilakukan ??
  • Hilangkan konsep pilih kasih. Hati anda harus berkata bahwa anda memperlakukan anak-anak anda dengan adil  dan penuh kasih sayang.
  •  Sediakan waktu anda anda untuk anak yang merasa terbuang. Misalnya, sambil anda sibuk menyuapi makanan pada anak bungsu anda, anda bisa memuji anak sulung yang sedang meminta penilaian anda akan hasil mewarnainya. Bukan menunda pujian karena anda sibuk menyuapi anak bungsu anda.
  • Gunakan kata-kata bijak : Hindari penggunaan kata-kata yang bersifat mengutamakan ataupun mendahulukan      kepentingan/kebutuhan salah satu anak. Agar anak tidak punya pikiran bahwa orangtuanya pilih kasih. Contoh : Kevin : (cemburu), mama koh kasih Tio uang 80 ribu..sie??? koh aku dikasih hanya 20 ribu saja. Mama (kata-kata bijak) : Nak sayang, mama kasih ke Tio uang 50 ribu untuk membeli sepatu baru, karena sepatu Tio yang lama sudah rusak dan harga sepatu di Toko khusus anak2 dijual dari harga 50 – 90 ribu; sepatu Kevin kan masih baru..mama kasih 20 ribu untuk beli buku baru buat Kevin karna Kevin kan sudah masuk semester yang baru”. Believe or not, kata-kata bijak anda tidak sia-sia.
  •   Perlakukan masing-masing anak secara unik : aneh kan, maksud saya beri alasan mengapa anda harus memberi perhatian lebih kepada anak yang satu dari pada anak yang lain. Misalkan : karena anak itu masih bayi sehingga harus diperhatikan lebih sedangkan anak yang satu sudah umur 8 thn. Kalau alasannya jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti anak..pasti anak menghargai itu.

Demikianlah pembahasan kita kali ini dan salam hangat keluarga Indonesia.

By : Astian Leba (Mhs PAK)
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar