Minggu, 11 Mei 2014

TERPANCING EMOSI PERILAKU ANAK



Salam Kid’s Parents
       Sebuah remote control yang berukuran kecil dapat mengendalikan sebuah TV yang berukuran besar. TV ini bisa saja mati atau hidup, dan dapat bepindah dari satu siaran ke siaran lain. TV dapat mengikuti semua keinginan dari remote control sendiri yang mengendalikanya.
Gambaran di atas merupakan contoh secara tidak sadar terjadi dalam kehidupan orangtua dengan anak.
Sadarkah anda, jika selama ini anak anda menjadi remote control yang mengendalikan anda untuk menuruti semua yang dia mau ???
Kebiasaan ini terjadi pada saat anak sedang menguji emosi kita ? percayakah anda akan hal itu ? anak usia batita dan balita dapat menguji emosi kita dengan cara menangis, merengek, berguling dsb. Sedangkan anak usia (6-10th) menguji emosi kita dengan memukul, menendang, main di atas meja, melempar barang dsb. Pada umumnya seringkali kita terpancing dan akhirnya menjadi marah. Saat marah itulah kita akan lepas control atau bisa juga cenderung mengalah.
Misalkan : anak sedang menangis sambil berteriak, dan memukul. Lalu anda terpancing emosi, lalu memarahi anak anda, membentaknya atau anda memberikan hadiah prilaku buruk anak anda “ (ayah memukul anak), sudah diam ! berhentilah  menangis, ini uang beli apa yang kau mau.”  
Secara tidak sadar, anak sedang mengendalikan anda. Anak menang atas prilaku buruknya dan anda bisa kalah. Untuk itulah anda harus dapat menjadi seperti remote control (berkapala dingin, tenang) dapat mengendalikan sebuah TV yang besar (prilaku buruk anak yang bisa dapat di kurangi). Selamat membaca…



Terpancing Emosi

Bila kita yang terpancing oleh permainan emosi anak, anak kitalah yang merasa menang. Kedua hal tersebut akan membuat anak kita merasa bisa mengendalikan orang tuanya. Jika ini terjadi maka ia akan terus berusaha untuk mengulanginya pada kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar lagi.
           
Apa yang sebaiknya kita lakukan ?
 Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis tapi tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan keputusan kita dengan catatan anak tidak berulah lagi. Setelah pernyataan itu kita keluarkan, lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata pada anak kita berulah, hingga ia berhenti berulah. Proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit, tabahlah melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita; dan jangan ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang berulah tadi. Sekali kita berhasil membuat anak kita mengalah, maka selanjutnya dia tidak akan mengulangi untuk kedua kalinya.

By : Astian Leba (Mhs PAK)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar