Salam Kid’s Parents
Sebuah remote
control yang berukuran kecil dapat mengendalikan sebuah TV yang berukuran
besar. TV ini bisa saja mati atau hidup, dan dapat bepindah dari satu siaran ke
siaran lain. TV dapat mengikuti semua keinginan dari remote control sendiri
yang mengendalikanya.
Gambaran di atas merupakan contoh secara tidak sadar terjadi
dalam kehidupan orangtua dengan anak.
Sadarkah anda, jika selama ini anak anda menjadi remote
control yang mengendalikan anda untuk menuruti semua yang dia mau ???
Kebiasaan ini terjadi pada saat anak sedang menguji emosi
kita ? percayakah anda akan hal itu ? anak usia batita dan balita dapat menguji
emosi kita dengan cara menangis, merengek, berguling dsb. Sedangkan anak usia
(6-10th) menguji emosi kita dengan memukul, menendang, main di atas
meja, melempar barang dsb. Pada umumnya seringkali kita terpancing dan akhirnya
menjadi marah. Saat marah itulah kita akan lepas control atau bisa juga
cenderung mengalah.
Misalkan : anak sedang menangis sambil berteriak, dan
memukul. Lalu anda terpancing emosi, lalu memarahi anak anda, membentaknya atau
anda memberikan hadiah prilaku buruk anak anda “ (ayah memukul anak), sudah
diam ! berhentilah menangis, ini uang
beli apa yang kau mau.”
Secara tidak sadar, anak sedang mengendalikan anda. Anak
menang atas prilaku buruknya dan anda bisa kalah. Untuk itulah anda harus dapat
menjadi seperti remote control (berkapala dingin, tenang) dapat mengendalikan
sebuah TV yang besar (prilaku buruk anak yang bisa dapat di kurangi). Selamat
membaca…
Terpancing Emosi
Bila kita
yang terpancing oleh permainan emosi anak, anak kitalah yang merasa menang.
Kedua hal tersebut akan membuat anak kita merasa bisa mengendalikan orang
tuanya. Jika ini terjadi maka ia akan terus berusaha untuk mengulanginya pada
kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar lagi.
Apa yang sebaiknya kita lakukan ?
Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, tidak
menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya
bahwa tangisannya tidak mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis tapi
tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan keputusan kita
dengan catatan anak tidak berulah lagi. Setelah pernyataan itu kita keluarkan,
lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata pada anak kita berulah, hingga ia
berhenti berulah. Proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit, tabahlah
melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan
kita; dan jangan ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang
berulah tadi. Sekali kita berhasil membuat
anak kita mengalah, maka selanjutnya dia tidak akan mengulangi untuk kedua kalinya.
By : Astian Leba (Mhs PAK)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar