Kamis, 29 Mei 2014

BANYAK MENGANCAM


“Adik, jangan naik ke atas meja, nanti jatuh nggak ada yang menolong!”, “Jangan main di luar malam-malam nanti di tangkap nenek sihir, mukanya tua dan menyeramkan”.
Contoh di atas merupakan realita dalam kehidupan orangtua dengan anak, orangtua yang ingin anaknya patuh dan mendengarkan apa yang dikatakan, seperti misalnya menghadapi anak yang menangis trus, tidak mau diam, orangtua yang kewalahan dan nggak sabar bisa saja menggunakan metode mengancam anaknya seperti contoh “jangan nangis, nanti di suntik di pantat mu oleh dokter.”
Dari sisi anak, pernyataan yang sifatnya melarang atau pertintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernytaan itu sudah termasuk ancaman terlebih ada kalimat tembahan “nanti di marah papa/mama.”
Metode ancaman sangat mempengaruhi emosional anak dan psiko-sosial anak. salah satu contoh : ”Jangan main-main diluar nanti di culik sama orang luar yang menyeramkan” secara tidak sadar, timbulnya rasa tidak percaya dengan orang-orang sekitarnya, akan takut dengan orang asing yang menyeramkan (sekalipun dia itu adalah om, paman dsb), relasi sosial dengan teman-teman terhambat, hanya bermain dekat dengan tetangga sebelah takut bermain dengan  teman-teman di rumah yang jauh. Karna anak menginterpretasi bahwa lingkunganya ini semua penjahat, orang yang menyeramkan, karena ancaman orangtua tadi.
Lebih lanjut, kita menuntaskan masalah ini..Good Reading
  

Banyak Mengancam

Seorang anak, anak adalah makhluk yang sangat pandai mempelajari pola orangtuanya, dia tidak hanya bisa mengetahui pola orangtuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya.
Hal itu terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan.
Seperti contoh tadi diatas “anak akan disuntik oleh dokter, jikalau tidak diam”. Kata ancaman. Anak akan timbul rasa tidak percaya atau takut dengan dokter, saat berhubungan dengan dokter jika anak sakit.
Apa yang sebaiknya dilakukan ?
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. Tatap matanya dengan lembut, namun perlihatkan bahwa ekpresi kita tidak senang, dengan tindakan yang mereka lakukan.
Sikap itu juga dipertegas dengan  kata-kata “Sayang, papa/mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu! Papa/mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan  ancaman atau teriak-teriakan atau menjelaskan suatu peryataan yang konsekuensi, misal “Sayang bila kamu tidak meminjamkan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. Mainan akan papa/mama keluarkan, bila kamu mau meminjamkan mainan itu ke adikmu”. Tetapi pernyataan itu kita harus dengan tindakan yang nyata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar