“Adik, jangan
naik ke atas meja, nanti jatuh nggak ada yang menolong!”, “Jangan main di luar
malam-malam nanti di tangkap nenek sihir, mukanya tua dan menyeramkan”.
Contoh di atas
merupakan realita dalam kehidupan orangtua dengan anak, orangtua yang ingin
anaknya patuh dan mendengarkan apa yang dikatakan, seperti misalnya menghadapi
anak yang menangis trus, tidak mau diam, orangtua yang kewalahan dan nggak
sabar bisa saja menggunakan metode mengancam anaknya seperti contoh “jangan
nangis, nanti di suntik di pantat mu oleh dokter.”
Dari sisi anak,
pernyataan yang sifatnya melarang atau pertintah dan dilakukan dengan cara
berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan
suatu aktivitas, pernytaan itu sudah termasuk ancaman terlebih ada kalimat
tembahan “nanti di marah papa/mama.”
Metode ancaman
sangat mempengaruhi emosional anak dan psiko-sosial anak. salah satu contoh :
”Jangan main-main diluar nanti di culik sama orang luar yang menyeramkan”
secara tidak sadar, timbulnya rasa tidak percaya dengan orang-orang sekitarnya,
akan takut dengan orang asing yang menyeramkan (sekalipun dia itu adalah om,
paman dsb), relasi sosial dengan teman-teman terhambat, hanya bermain dekat
dengan tetangga sebelah takut bermain dengan
teman-teman di rumah yang jauh. Karna anak menginterpretasi bahwa
lingkunganya ini semua penjahat, orang yang menyeramkan, karena ancaman
orangtua tadi.
Lebih lanjut, kita menuntaskan
masalah ini..Good Reading
Banyak Mengancam
Seorang anak, anak adalah makhluk yang sangat pandai
mempelajari pola orangtuanya, dia tidak hanya bisa mengetahui pola orangtuanya
mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang
tuanya.
Hal itu terjadi bila kita sering menggunakan ancaman
dengan kata-kata, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita
sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan.
Seperti contoh tadi diatas “anak akan disuntik oleh
dokter, jikalau tidak diam”. Kata ancaman. Anak akan timbul rasa tidak percaya
atau takut dengan dokter, saat berhubungan dengan dokter jika anak sakit.
Apa yang
sebaiknya dilakukan ?
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu.
Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. Tatap
matanya dengan lembut, namun perlihatkan bahwa ekpresi kita tidak senang,
dengan tindakan yang mereka lakukan.
Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata “Sayang, papa/mama mohon supaya
kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu! Papa/mama akan makin sayang sama
kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau
teriak-teriakan atau menjelaskan suatu peryataan yang konsekuensi, misal
“Sayang bila kamu tidak meminjamkan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa
bermain. Mainan akan papa/mama keluarkan, bila kamu mau meminjamkan mainan itu
ke adikmu”. Tetapi pernyataan itu kita harus dengan tindakan yang nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar