Selasa, 13 Mei 2014

MENGUNGKIT KESALAHAN ANAK



Salam Kid’s Parents
       Sengaja atau tidak sengaja, orang tua ingin mempermalukan anaknya dengan membenarnya dirinya, Papa/Mama yang paling tahu dan  paling benar, yakni mengungkit-ngunkit catatan kesalahan yang pernah anak kita buat baik itu yang memalukan bagi anak kita sendiri atau yang mencelakakan orang lain. Contohnya “Tuh kan Papa/Mama bilang apa ? kamu nggak dengerin orang tua sih, lihat kaca rumah tetangga kita pecah, karna ulah mu,  main bola karet, tendang sampai kena kaca orang hingga pecah. Lihat tu tuannya marah sama kamu. Dasar anak bandel.”
       Kita mengira dengan mengungkit masa lalunya didepannya maupun didepan banyak orang baik sengaja atau tidak sengaja ingin mempermalukan anak kita atau lantaran kesal dengan anak kita. Sehingga kita, ngomong dari A-Z tentang kesalahan anak kita yang dia buat in last time. Akan membuat anak belajar dari masalah.
       Tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Ia akan sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahan-kesalahannya sebagai tindakan pembalasan dari sakit hatinya.
       Further more, kita membahas masalah ini..Good Reading..GBU






Mengungkit Kesalahan Masa Lalu

Jikalau kebiasaan ini terus-menerus membuat anak kita menjadi kebal dalam hal mendengar perkataan kita. Memang didepan kita, ia setuju, tapi diluar  sana anak berbuat lain.

Apa yang sebaiknya kita lakukan ?
Cukup dengan tatapan mata, rangkul anak kita.ikutlah berempati dengan anak kita sampai ia mengakui kesalahannya. Ucapkan pernyataan seperti ini, “Ya, sayang kita semua manusia biasa, setiap orang pasti pernah keliru dan salah. Papa/Mama yakin ini adalah pelajaran berharga buat kita semua dan mulai besok kamu bisa memutuskan yang terbaik.
            Kalau dia, melakukan kesalahannya yang sama, cukup beri anggukan kepala serta pujian : “Papa/Mama bangga kamu bisa menemukan hal yang positif atau baik dari kejadian yang kamu alami.” Jika ini kita lakukan maka selanjutnya ia akan lebih mendengar nasiht kita. (Ingat peryataan ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan bahasa tiap usia anak).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar