Salam hangat keluarga Indonesia... terima kasih sudah mau mampir di warung blogku....selamat membaca.
Apakah
anda ciri orang tua yang takut membicarakan hal yang tabu kepada anak seperti
seksualitas ? Bahasa apa yang cocok, atau sampai sejauh mana informasi tentang seksualitas harus
diceritakan kepada anak.
Orangtua
menganggap, untuk membicarakan seks dengan anak ketika dia telah dewasa, bahkan
orang tua menyerahkan tanggung jawab itu kepada sekolah. Karena sebagian
orangtua tidak tahu pengetahuan tentang seks. Padahal guru tidak bisa
memberikan pendidikan seksualitas yang baik karena perhatiannya harus
terbagi-bagi pada murid-murid yang lain.
Apakah
anda bingung atau deg-degan, jikalau ditembak sejumlah pertanyaan dari anak
anda tentang seks. Apa orangtua harus sekolah tinggi2 untuk mempelajari tentang
seks ?, ada baik juga !! tapi tidak perlu, ada cara yang sederhana bagaimana
kita bisa menjelaskan pendidikan seks kepada anak anda. Program2 pemerintah
seperti poster tentang Say no to Sex dsb, bagi saya itu kurang efektif. Orang
tua memainkan peranan penting dalam pendidikan seks kepada anak. Karena
pendidikan seks dilakukan secara bertahap, bahkan sejak anak lahir.
Mengapa
saya kata demikian ? karena sejumlah fakta di Indonesia, telah membuktikan,
anak2 laki usia (6-8th) kebiasaan ketika mandi bersama suka bermain
dengan alat kelaminnya bahkan saat buang air kecil dsb. Orangtua tak perlu
takut jika melihat tingkah laku anak seperti itu. Tapi disini butuh pendekatan,
dan kapan kita membicarakan soal seks kepada ? jawabannya kapan saja dan dimana
saja dan harus dengan bijaksana membicarakan hal ini kepada anak. Untuk itu
mari kita baca dengan seksama seputar kasus ini. Selamat membaca. Tuhan Yesus
memberkati
Kapan Saja
Bicara Seks pada Anak
Kebingungan
orangtua wajar, mengingat masa kecilnyapun, banyak orangtua yang tidak mendapat
pendidikan seks dari orangtua mereka. Budaya tabu membuat pendidikan seks tidak
pernah disentuh pada zaman dulu. Karena itu ajarkan seks yang benar kepada anak
anda. Anda tidak usah panik, dan membentak anak yang sedang memainkan alat
genitalnya. Cukup terangkan bahwa itu perbuatan tidak baik. Jadi orang tua
paling tidak harus tahu informasi2 tentang seks.
Apa yang
sebaiknya kita lakukan ?
Kesempatan emas yang bisa didapatkan misalkan bila
anak melihat seorang ibu sedang menyusu bayinya. Dari pemandangan itu, orangtua
bisa
menjelaskan
mengapa perempuan mempunyai payudara yang besar, karena suatu saat berisi susu
yang penting bagi bayi akan kesehatan tubuh bayi.
Orangtua juga bisa memakai kesempatan
mandi atau keramas rambut anak. “Orangtua dapat bilang pada anak, dulu waktu
kecil, kamu tidak punya rambut. Sekarang kamu sudah besar; rambutmu sudah
banyak ya. Kalau kamu lebih besar lagi, akan tumbuh rambut-rambut lain di
ketiak dan di alat kelamin. Kalau anak laki-laki juga tumbuh jenggot dan kumis.
Lihat saja ayah. Ayah sudah besar maka berkumis,”
Pada tahap bayi berumur 0-18 bulan, bayi
harus mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini menjadi penting bagi
perkembangan emosinya. Anak juga diajar kebersihan tubuh seperti mandi, basuh,
dan kesehatan.” Usia 18 – 3 th (rasa ingin tahu), anak harus dijelaskan alat
kelaminnya. Contoh : anak senang membersihkan telinganya menggunakan cotton bud. Jelaskan pada anak
mengorek-ngorek kuping itu memang enak tetapi kalau tidak hati-hati bisa lecet.
Contoh lain : saat ibu dan anak sedang bersama dan melihat cicak lagi kawin.
Jelaskan : “lihat tu cicak sedang kawin supaya mereka bisa mendapat keturunan
atau anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar