CUKUP 20
MENIT SEHARI BERMAIN BERSAMA ANAK
Bermain seringkali diterima
sebagaimana adanya. Padahal, menurut psikolog perkembangan anak, Dr Mimi
Patmonodewo, bermain sangat penting untuk perkembangan kejiwaan anak dan
mempererat hubungan orangtua dan anak.
Dalam sehari orangtua diharapkan
menyediakan waktu 20 menit sehari untuk bermain bersama dengan anak.
Namun, 20 menit itu harus diberikan
dengan sepenuh hati dan dengan senang. Dalam saat bermain yang 20 menit itu
orangtua membantu anak untuk mengenal atau mempelajari sesuatu yang baru. Bila
berhasil dalam permainannya, orangtua member pujian pada anak supaya anak punya
kepercayaan diri untuk melakukan hal lebih kompleks. Bila belum berhasil,
harapan orangtua menahan diri untuk tidak mengkritik, tetapi membantu anak
untuk berusaha menyelesaikan permainannya sehingga anak tidak kehilangan
kepercayaan diri.
APA YANG SEBAIKNYA
DILAKUKAN???
Orangtua sebagai Mediator.
Melalui
bermain orangtua selalu bisa mengajari suatu hal baru kepada anak, dan orangtua
bertindak sebagai mediator. Dengan mengikutkan semua indra, anak menjadi lebih
tertarik dan apa yang dikenalkan menjadi lebih bermakna.
Misalkan,
dalam permainan menggunakan bentuk geometris segi tiga, lingkaran atau bujur
sangkar dalam ukuran dan warna berbeda (permainan balok bewarna). Permainan ini
mengajarkan anak mengenal warna, bentuk, dan ukuran, yaitu sama dan tidak sama.
Kekritisan anak melihat perbedaan ini
akan sangat berguna, salah satunya ketika anak mulai belajar menulis huruf.
Permainan Tradisional.
Anda
bisa menciptakan permainan tradisional didalam rumah atau dihalaman rumah Anda
yang cukup luas. Misalkan, untuk anak lebih besar, permainan congklak (dakon)
mengajar anak menghargai kejujuran. “Permainan ini tidak membolehkan berlaku
curang dalam menghitung biji dakon. Permainan
yang nyaris punah ini mengandung nilai kesederhanaan, kedisplinan, kejujuran,
membangun sosialisasi.
Praktis.
Alat
permainan tidak perluh mahal, bisa diambil dari lingkungan setempat. Cirri-ciri
alat permainan yang edukatif adalah alat itu sederhana, aman untuk dipakai
misalnya catnya tidak beracun dan bentuknya tidak melukai atau berpeluang
mencelakakan anak, bisa dimainkan dengan berbagai cara, dan bila rusak mudah
diganti.
Misalkan
permainan melatih kerjasama seperti misalkan Anda menyiapkan alat penutup mata
dari kain (tidak terpakai lagi) digunting bentuk persegi empat panjang untuk
menutupi mata. Pastikan kain itu tidak transparan. Cara bermainnya Anda menutup
mata anak Anda, menyuruh memegang gelas plastik berisi air, lalu tugaskan anak
lainnya menuntun arah yang memegang gelas berisi air (hanya mengarahkan dan
tidak boleh pegang tangan untuk menuntun) dan tugas yang memegang gelas berisi
air yaitu menuang air ke salah satu anak
yang memegang gelas plastik kosong yang duduk diatas kursi. (jaraknya harus
agak sedikit jauh supaya ada tantangan).
Membangun
Empati
Misalkan,
dengan bermain engklek dimana anak
hanya berdiri dan berjalan dengan satu kaki. Selain mengajar anak merasakan
bagaimana menjadi orang cacat sekaligus mengajarkan untuk menghargai anggota
tubuh.
Sensitif dan Responsif
Artinya
memahami suasana hati (mood anak).
Orangtua harus peka misalkan, ketika anak berubah sikap suatu saat dan dengan
penuh empati bersikap responsif menghadapi perubahan itu dengan berusaha
mencari tahu apa penyebab perubahan sikap pada anak. Dengan interaksi seperti
ini hubungan orangtua anak bisa menjadi lebih baik, lebih hangat, dan anak
tumbuh dengan empati, penuh percaya diri, dan tidak mencurigai lingkungan.
Contoh “anak gagal membangun menara dari balok yang disusun (berantakan) Tugas
Anda memahami perasaannya “Ayo anak sayang, mama percaya kamu pasti bisa
membangun menara yang tinggi.”