MENGOBATI
PERILAKU ANAK DENGAN
RASA MALU
DAN RASA BERSALAH
Malu didefinisikan sebagai salah
satu bentuk salah satu bentuk rasa rendah diri ekstrem yang terjadi ketika
anak-anak merasa gagal memenuhi harapan orang lain dalam bertindak. Rasa
bersalah terjadi bila anak gagal memenuhi standar perilaku yang ditetapkannya
sendiri.
Dalam banyak budaya, malu adalah
cara yang tepat untuk menghukum orang yang berperilaku antisosial. Walaupun
kita mungkin memandang rendah masyarakat yang menghukum seseorang dengan
mempermalukannya di depan umum, kita juga harus mengakui bahwa dalam budaya
demikian angka kejahatan dan kerusuhan sosial jauh lebih rendah.
MEMANFAATKAN RASA MALU
Apakah tindak mempermalukan
sebaiknya dipertimbangkan sebagai bagian dalam pengasuhan anak kita? Dapatkan
rasa malu ini dapat mengatasi krisis moral pada anak? Jawabannya adalah “ya” :
1. Upaya mempermalukan harus diberikan
apabila seorang anak tidak memiliki reaksi emosi setelah melakukan sesuatu yang
seharusnya membuatnya malu.
2. Upaya mempermalukan harus
dipertimbangkan sebagai strategi pengubahan perilaku anak apabila cara
pendisiplinan yang lebih lunak dianggap gagal.
MEMANFAATKAN RASA BERSALAH
Rasa bersalah atau yang kita sebut
“kesadaran moral”, lebih efektif untuk mengendalikan perilaku anak disbanding
ancaman atau rasa takut dari luar. Bahkan, bila kita dapat merangsang rasa
bersalah pada anak kita, mereka bersedia menjalani peraturan dan akibat yang
lebih keras daripada yang telah kita tetapkan.
APA YANG SEBAIKNYA
DILAKUKAN???
Jika kita menerima kenyataan bahwa
rasa malu dan bersalah merupakan aspek normal dan bedaya guna dalam kehidupan
emosi anak kita, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menggunakan
aspek-aspek tersebut untuk mendorong perkembangan moral anak tanpa efek samping yang
membahayakan.
1. Tetapkan aturan yang konsisten dan
hukuman yang konsisten apabila aturan itu dilanggar. Pastikan bahwa hukuman
Anda adil, langsung, dan efektif.
2. Apabila anak-anak di atas usia 10
tahun melanggar aturan yang penting dan tampaknya tidak jera oleh
hukuman-hukuman Anda, suruh mereka menyusun daftar hukuman sendiri untuk tiap
aturan itu. Misalkan tidak mengerjakan PR, maka kurangi jam nonton film kartun
dsb. Anda bisa konsultasi dengan kerabat dekat hukuman apa yang pas sesuai
aturan yang ditetapkan.
3. Berikan reaksi yang lebih keras bila
anak Anda melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Sebagai contoh, jika
anak Anda menendang bola karet hingga pot bunga tetangga sebelah menjadi pecah,
maka ia akan kehilangan kesempatan bermain bola selama 1 minggu.
4. Jadikan permintaan maaf sebagai
sesuatu yang serius. Permintaan maaf secara lisan harus digabungkan dengan
permintaan maaf secara tertulis.
Contoh : Ayah menyuruh menulis kalimat di buku
anaknya yaitu “Saya akan bersikap hormat kepada Ayah dan Ibu”. Apabila anak
bersikap tidak hormat lagi, maka anak harus menulis kalimat itu dua kali. Kalau
tiga kali ia tidak sopan. Maka ia harus menulis tiga kalimat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar