Kamis, 12 Juni 2014

MANFAAT RASA MALU DAN RASA BERSALAH



MENGOBATI PERILAKU ANAK DENGAN
RASA MALU DAN RASA BERSALAH

   Malu didefinisikan sebagai salah satu bentuk salah satu bentuk rasa rendah diri ekstrem yang terjadi ketika anak-anak merasa gagal memenuhi harapan orang lain dalam bertindak. Rasa bersalah terjadi bila anak gagal memenuhi standar perilaku yang ditetapkannya sendiri.
     Dalam banyak budaya, malu adalah cara yang tepat untuk menghukum orang yang berperilaku antisosial. Walaupun kita mungkin memandang rendah masyarakat yang menghukum seseorang dengan mempermalukannya di depan umum, kita juga harus mengakui bahwa dalam budaya demikian angka kejahatan dan kerusuhan sosial jauh lebih rendah.

MEMANFAATKAN RASA MALU
    Apakah tindak mempermalukan sebaiknya dipertimbangkan sebagai bagian dalam pengasuhan anak kita? Dapatkan rasa malu ini dapat mengatasi krisis moral pada anak? Jawabannya adalah “ya” : 
1.     Upaya mempermalukan harus diberikan apabila seorang anak tidak memiliki reaksi emosi setelah melakukan sesuatu yang seharusnya membuatnya malu. 
2.     Upaya mempermalukan harus dipertimbangkan sebagai strategi pengubahan perilaku anak apabila cara pendisiplinan yang lebih lunak dianggap gagal.




MEMANFAATKAN RASA BERSALAH
  Rasa bersalah atau yang kita sebut “kesadaran moral”, lebih efektif untuk mengendalikan perilaku anak disbanding ancaman atau rasa takut dari luar. Bahkan, bila kita dapat merangsang rasa bersalah pada anak kita, mereka bersedia menjalani peraturan dan akibat yang lebih keras daripada yang telah kita tetapkan.

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
    Jika kita menerima kenyataan bahwa rasa malu dan bersalah merupakan aspek normal dan bedaya guna dalam kehidupan emosi anak kita, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menggunakan aspek-aspek tersebut untuk mendorong perkembangan  moral anak tanpa efek samping yang membahayakan. 
1.     Tetapkan aturan yang konsisten dan hukuman yang konsisten apabila aturan itu dilanggar. Pastikan bahwa hukuman Anda adil, langsung, dan efektif. 
2.    Apabila anak-anak di atas usia 10 tahun melanggar aturan yang penting dan tampaknya tidak jera oleh hukuman-hukuman Anda, suruh mereka menyusun daftar hukuman sendiri untuk tiap aturan itu. Misalkan tidak mengerjakan PR, maka kurangi jam nonton film kartun dsb. Anda bisa konsultasi dengan kerabat dekat hukuman apa yang pas sesuai aturan yang ditetapkan. 
3.         Berikan reaksi yang lebih keras bila anak Anda melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Sebagai contoh, jika anak Anda menendang bola karet hingga pot bunga tetangga sebelah menjadi pecah, maka ia akan kehilangan kesempatan bermain bola selama 1 minggu. 
4.          Jadikan permintaan maaf sebagai sesuatu yang serius. Permintaan maaf secara lisan harus digabungkan dengan permintaan maaf secara tertulis.





Contoh : Ayah menyuruh menulis kalimat di buku anaknya yaitu “Saya akan bersikap hormat kepada Ayah dan Ibu”. Apabila anak bersikap tidak hormat lagi, maka anak harus menulis kalimat itu dua kali. Kalau tiga kali ia tidak sopan. Maka ia harus menulis tiga kalimat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar