Sabtu, 07 Juni 2014

EMPATI DAN KEPEDULIAN ANAK



MENGEMBANGKAN RASA EMPATI DAN KEPEDULIAN ANAK

            Salam keluarga bahagia bersama anak-anak tercinta, edisi kita kali ini berbicara mengenai perkembangan empati anak, dan tindakan apa yang Anda dapat lakukan agar anak lebih bersikap empati terhadap sesama.
            Ada dua komponen empati : reaksi emosi kepada orang lain yang normalnya berkembang dalam enam tahun pertama kehidupan anak dan reaksi kognitif sejauhmana anak-anak ketika sudah besar mampu memandang sesuatu dari sudut pandang atau perspektif orang lain.
            Perkembangan empati pada bayi dimana bayi akan mencoba melihat bayi lain yang sedang menangis dan sering sampai ikut menangis. Sehingga ia menafsirkan rasa tertekan bayi lain rasa tertekannya sendiri.
            Empati balita secara naluri  mencoba meringankan penderitaan orang lain. Namun, karena belum matangnya perkembangan kognitif mereka, anak-anak seusai ini tidak begitu yakin dengan apa yang harus diperbuat, dan ini yang membuat mereka mengalami kebingungan empatik. Misalkan : Sara menunjukkan kebingungan empatik ketika teman bermainnya, Melanie, tiba-tiba mulai menangis. Pada mulanya Sarah hamper ikut menangis, tetapi kemudian ia berdiri, meletakkan mainan yang sedang dipegangnya, lalu menghibur Melanie.
            Usia enam tahun, kemampuan anak memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain dan berbuat sesuai dengan itu. Ketrampilan memahami sesuatu dengan perspektif orang lain ini memungkinkan seorang anak kapan bisa mendekati teman yang sedang sedih dan kapan ia harus membiarkannya sendirian.
            Masa berakhirnya masa kanak-kanak, antara 10-12 tahun, anak-anak mengembangkan empati mereka tidak hanya kepada orang yang mereka kenal atau mereka lihat secara langsung, namun termasuk kelompok orang yang belum mereka jumpai.

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
            Secara umum, anak laki-laki sama sosialnya dengan anak perempuan, tetapi mereka cenderung lebih suka memberikan bantuan fisik atau bertindak sebagai “pelindung” (membantu teman belajar menaiki sepeda), sedangkan anak perempuan lebih suka memberikan dukungan psikologis (misalnya menghibur anak lain yang sedang sedih). Perilaku saling membantu di antara kakak dan adik biasanya lebih besar bila beda usia di antara mereka lebih jauh.
            Beberapa hal penting yang menjadi yang harus diperhatikan orangtua dalam mengembangkan rasa empatik anak, di antaranya :
            Agama, Cara orangtua menerapkan ajaran agama dalam menjalani hidup sehari-hari sangat efektif dalam mempengaruhi anak.
            Aturan dan konsisten, Anda harus membuat peraturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak mudah memberi keringanan kepada mereka.  Anak-anak usia tiga tahun sudah dapat diminta menjaga kebersihan diri atau memasang sendok dan garpu di meja makan. Pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab lain ditingkatkan sesuai usia, dan tidak diimbali dengan hadiah, atau bahkan uang saku. (Catatan : perketat tuntutan mereka misalkan waktunya membereskan tempat tidur)
Supaya anak lebih bertanggung jawab, orangtua pun harus lebih bertanggung jawab seperti orangtua hindari memanjakan anak.
            Perbuatan baik secara acak, cara sederhana dan paling efektif untuk mengajarkan empati kepada anak-anak. Lebih baiknya Anda membeli sebuah buku agenda di toko buku dan catat perbuatan baik keluarga setiap hari berupa, menjenguk oma yang lagi sakit, melayani tamu dll. Anda akan melihat bahwa anak akan ketagihan, dan mereka akan mencari jalan sendiri untuk melakukan lebih banyak lagi perbuatan baik.
Libatkan anak Anda dalam kegiatan pelayanan masyarakat, hal ini mengajari akan ketrampilan social, yakni kerja sama, ketekunan dan kesetiaan. Contoh kegiatan2 yang melibatkan anak :
·        Ikut kerja bakti di linkungan sekitar.
·        Membuat boneka bagi anak-anak yang sedang sakit.
·        Menghibur orang jompo
·        Mendatangi panti asuhan
            Beberapa penekanan penting, Anda perlu melibatkan anak dalam kegiatan masyarakat setidak-tidaknya dua minggu sekali, pilih sesuatu yang bermakna bagi Anda dan anak Anda, jangan biarkan minat Anda dalam hal ini luntur, dan ikut serta dalam kegiatan bersama anak-anak.
            Jadi, melatih emosi anak untuk mewujudkan rasa empati dan kepedulian bukan hanya jadi tugas bagi anak tapi bagi orangtua yang harus lebih bertanggung jawab dalam melakukan sikap empati dan kepedulian baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar