MENGEMBANGKAN RASA EMPATI DAN
KEPEDULIAN ANAK
Salam keluarga bahagia bersama anak-anak
tercinta, edisi kita kali ini berbicara mengenai perkembangan empati anak, dan
tindakan apa yang Anda dapat lakukan agar anak lebih bersikap empati terhadap sesama.
Ada
dua komponen empati : reaksi emosi kepada
orang lain yang normalnya berkembang dalam enam tahun pertama kehidupan anak
dan reaksi kognitif sejauhmana anak-anak ketika sudah besar mampu memandang
sesuatu dari sudut pandang atau perspektif orang lain.
Perkembangan
empati pada bayi dimana bayi akan mencoba melihat bayi lain yang sedang
menangis dan sering sampai ikut menangis. Sehingga ia menafsirkan rasa tertekan
bayi lain rasa tertekannya sendiri.
Empati
balita secara naluri mencoba meringankan
penderitaan orang lain. Namun, karena belum matangnya perkembangan kognitif
mereka, anak-anak seusai ini tidak begitu yakin dengan apa yang harus
diperbuat, dan ini yang membuat mereka mengalami kebingungan empatik. Misalkan : Sara menunjukkan kebingungan empatik ketika
teman bermainnya, Melanie, tiba-tiba mulai menangis. Pada mulanya Sarah hamper
ikut menangis, tetapi kemudian ia berdiri, meletakkan mainan yang sedang
dipegangnya, lalu menghibur Melanie.
Usia
enam tahun, kemampuan anak memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain dan
berbuat sesuai dengan itu. Ketrampilan memahami sesuatu dengan perspektif orang
lain ini memungkinkan seorang anak kapan bisa mendekati teman yang sedang sedih
dan kapan ia harus membiarkannya sendirian.
Masa
berakhirnya masa kanak-kanak, antara 10-12 tahun, anak-anak mengembangkan
empati mereka tidak hanya kepada orang yang mereka kenal atau mereka lihat
secara langsung, namun termasuk kelompok orang yang belum mereka jumpai.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
Secara
umum, anak laki-laki sama sosialnya dengan anak perempuan, tetapi mereka
cenderung lebih suka memberikan bantuan fisik atau bertindak sebagai
“pelindung” (membantu teman belajar menaiki sepeda), sedangkan anak perempuan
lebih suka memberikan dukungan psikologis (misalnya menghibur anak lain yang
sedang sedih). Perilaku saling membantu di antara kakak dan adik biasanya lebih
besar bila beda usia di antara mereka lebih jauh.
Beberapa
hal penting yang menjadi yang harus diperhatikan orangtua dalam mengembangkan
rasa empatik anak, di antaranya :
Agama, Cara
orangtua menerapkan ajaran agama dalam menjalani hidup sehari-hari sangat
efektif dalam mempengaruhi anak.
Aturan dan konsisten,
Anda harus membuat peraturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak mudah memberi
keringanan kepada mereka. Anak-anak usia
tiga tahun sudah dapat diminta menjaga kebersihan diri atau memasang sendok dan
garpu di meja makan. Pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab lain
ditingkatkan sesuai usia, dan tidak diimbali dengan hadiah, atau bahkan uang
saku. (Catatan : perketat tuntutan mereka
misalkan waktunya membereskan tempat tidur)
Supaya anak lebih bertanggung jawab,
orangtua pun harus lebih bertanggung jawab seperti orangtua hindari memanjakan
anak.
Perbuatan baik secara
acak, cara sederhana dan paling efektif untuk mengajarkan empati kepada
anak-anak. Lebih baiknya Anda membeli sebuah buku agenda di toko buku dan catat
perbuatan baik keluarga setiap hari berupa, menjenguk oma yang lagi sakit,
melayani tamu dll. Anda akan melihat bahwa anak akan ketagihan, dan mereka akan
mencari jalan sendiri untuk melakukan lebih banyak lagi perbuatan baik.
Libatkan anak Anda dalam kegiatan pelayanan masyarakat, hal ini mengajari akan ketrampilan
social, yakni kerja sama, ketekunan dan kesetiaan. Contoh kegiatan2 yang
melibatkan anak :
·
Ikut
kerja bakti di linkungan sekitar.
·
Membuat
boneka bagi anak-anak yang sedang sakit.
·
Menghibur
orang jompo
·
Mendatangi
panti asuhan
Beberapa
penekanan penting, Anda perlu melibatkan anak dalam kegiatan masyarakat setidak-tidaknya
dua minggu sekali, pilih sesuatu yang bermakna bagi Anda dan anak Anda, jangan
biarkan minat Anda dalam hal ini luntur, dan ikut serta dalam kegiatan bersama
anak-anak.
Jadi,
melatih emosi anak untuk mewujudkan rasa empati dan kepedulian bukan hanya jadi
tugas bagi anak tapi bagi orangtua yang harus lebih bertanggung jawab dalam
melakukan sikap empati dan kepedulian baik dalam keluarga maupun lingkungan
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar