OPTIMISME
OBAT PENANGKAL
DEPRESI DAN
RENDAHNYA PRESTASI
Optimisme lebih dari sekedar
berpikir positif. Optimisme adalah kebiasaan berpikir positif, atau
kecenderungan untuk memandang segala sesuatu dari sisi dan kondisi baiknya dan
mengharapkan hasil yang paling memuaskan.
Seorang psikolog Martin Seligman, menulis bahwa dalam
lebih 1000 penelitian yang melibatkan lebih dari setengah juta anak-anak dan
orang dewasa yang optimis jarang menderita depresi, lebih sukses di sekolah dan
di pekerjaan, dan yang mengejutkan, juga mempunyai tubuh yang lebih sehat
daripada orang pesimis.
Perbedaan antara kaum optimis dan
kaum pesimis yaitu cara mereka menjelaskan penyebab peristiwa, entah baik atau
buruk.
Kaum Optimis percaya bahwa peristiwa positif yang
membahagiakan bersifat permanen (akan
terjadi sepanjang waktu). Mereka juga merasa bertanggung jawab untuk
mengusahakan hal-hal yang baik terjadi. Jika sesuatu buruk terjadi, mereka
memandang kejadian ini sementara.
Kaum Pesimis menganggap peristiwa baik dianggap sementara, peristiwa buruk dianggap permanen; peristiwa baik terjadi karena
nasib baik atau kebetulan, sedangkan peristiwa buruk lebih dapat diperkirakan.
Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri dan orang lain dan juga
membesar-besarkan kejadian buruk.
APA YANG SEBAIKNYA
DILAKUKAN???
Mengembangkan Anak Berpikir Logis.
Penderita depresi mengembangkan kebiasaan
membayangkan masa depan yang suram. Misalkan seorang anak remaja (malas belajar
dan malas ke sekolah) karna seringkali dicap sebagai siswa bodoh oleh guru dan
teman-teman karna prestasinya yang rendah pada semua mata pelajaran. Solusinya
mengajarkan anak berpikir yang logis atau realistis contoh “Ayah pernah malas ke sekolah karena sering diejek oleh teman-teman
bahwa Ayah bodoh matematika, memang itu membuat ayah malu, tapi ayah berusaha
cari buku-buku cara mudah belajar matematika, cara jitu menguasai rumus
matematika dengan cepat,,,awalnya ayah ragu tapi ayah baca halaman demi
halaman, ayah tes berkali di kertas coretan ayah..dan terus-menerus ayah
mencoba menghafal rumus ini dengan cara menyanyi berulang-ulang kali..ayah
merasa menguasainya dan ayah berhasil dapat nilai matematika untuk pertama
kalinya”.
Berhati-hati dalam Mengkritik Anak.
Kritik ada dua jenis yaitu kritik yang betul
dan kritik yang salah; keduanya dapat berpengaruh nyata apakah anak Anda
menjadi optimis atau pesimis.
Aturan pertama dalam mengkritik anak adalah harus teliti. Menyalahkan secara
berlebihan menimbulkan rasa bersalah dan malu lebih daripada yang diperlukan
untuk membuat anak berubah. Namun, tidak menyalahkan samasekali dapat mengikis
rasa tanggung jawab dan meniadakan kemauan untuk berubah.
Aturan yang kedua adalah memberikan penjelasan yang optimis dan uraikan masalah secara terbuka.
Ambil
contoh Suzie (8 thn) meninggalkan kamarnya dalam keadaan berantakan meskipun orangtua sudah tiga kali memintanya
membereskan sebelum pergi bermain dengan teman-temannya. Sang orangtua kesal karena pagi itu rumah
mereka akan dilihat oleh agen property. Mereka mau tak mau harus membereskan
kamar putrinya.
Penjelasan Optimistis
“Suzie, kamu telah berbuat sesuatu yang Ibu
dan Ayah marah.” (Kritik sang ibu dengan cermat)
“Tadi pagi kami telah tiga kali memintamu
membereskan kamar, tetapi tiap kali kamu menundanya.” (Sang Ibu menceritakan
masalah dengan cermat)
“Karena kamu tidak membereskan kamar, padahal
aka nada agen property yang akan melihat-lihat, kami terpaksa membereskan
kamarmu, dan meninggalkan pekerjaan lain yang lebih penting. Kamu tentu tahu
bahwa membersihkan kamarmu adalah tanggung jawabmu, bukan tanggung jawab kami.”
(Sang ibu menjelaskan penyebab masalah dan akibatnya dengan tegas).
“Ibu ingin kamu tinggal di kamarmu selama 15
menit untuk merenungkan yang telah ibu katakana, kemudian kamu harus
memberitahu Ibu rencana kamu supaya kamarmu tetap rapi, dan kejadian seperti
itu tidak terulang. Tulis dikertas 3 cara untuk pecahkan masalah yaitu
bagaimana supaya kamar tetap rapi setiap hari. (sangat tepat memberikan
tantangan bagi anak usia ini untuk memecahkan masalah)
Anda adalah Model
Anak
cenderung meniru perilaku Anda baik itu cara pandang baik maupun buruk. Jika
Anda seorang pesimis, maka akan mempengaruhi gaya hidup anak untuk menganut
pola piker pesimis. Memang mengubah pola pikir tidaklah mudah.
Tapi,
Anda bisa membuat daftar table “Mengubah pikiran negatif menjadi pikiran
positif” untuk anak usia 10 ke atas.
Kolom
pertama : Masalah anak : misalkan “ nilai
matematika jelek.”
Buatlah
kolom pikiran negatif : misalkan
“Matematika memang membosankan dan buku-bukunya susah dimengerti”
Buatlah
kolom pikiran positif : misalkan
“Kamu bisa mencari buku-buku yang ditulis dengan gaya yang menarik, atau kamu
bisa meminta bantuan teman yang lebih
pintar dan dapat menjadi guru yang baik. (catatan : sebaiknya pikiran Anda yang
tulis untuk mengubah pikiran negatif anak)
Jadi, anak-anak perlu diajari bersikap optimis
sebagai cara untuk bertahan terhadap depresi dan ancaman gangguan mental serta
fisik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar