Selasa, 24 Juni 2014

OPTIMISME OBAT PENANGKAL DEPRESI DAN RENDAHNYA PRESTASI



OPTIMISME OBAT PENANGKAL
DEPRESI DAN RENDAHNYA PRESTASI

            Optimisme lebih dari sekedar berpikir positif. Optimisme adalah kebiasaan berpikir positif, atau kecenderungan untuk memandang segala sesuatu dari sisi dan kondisi baiknya dan mengharapkan hasil yang paling memuaskan.
            Seorang psikolog Martin Seligman, menulis bahwa dalam lebih 1000 penelitian yang melibatkan lebih dari setengah juta anak-anak dan orang dewasa yang optimis jarang menderita depresi, lebih sukses di sekolah dan di pekerjaan, dan yang mengejutkan, juga mempunyai tubuh yang lebih sehat daripada orang pesimis.
            Perbedaan antara kaum optimis dan kaum pesimis yaitu cara mereka menjelaskan penyebab peristiwa, entah baik atau buruk.
Kaum Optimis percaya bahwa peristiwa positif yang membahagiakan bersifat permanen (akan terjadi sepanjang waktu). Mereka juga merasa bertanggung jawab untuk mengusahakan hal-hal yang baik terjadi. Jika sesuatu buruk terjadi, mereka memandang kejadian ini sementara.
Kaum Pesimis menganggap peristiwa baik dianggap sementara, peristiwa buruk dianggap permanen; peristiwa baik terjadi karena nasib baik atau kebetulan, sedangkan peristiwa buruk lebih dapat diperkirakan. Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri dan orang lain dan juga membesar-besarkan kejadian buruk.



APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
Mengembangkan Anak Berpikir Logis.
Penderita depresi mengembangkan kebiasaan membayangkan masa depan yang suram. Misalkan seorang anak remaja (malas belajar dan malas ke sekolah) karna seringkali dicap sebagai siswa bodoh oleh guru dan teman-teman karna prestasinya yang rendah pada semua mata pelajaran. Solusinya mengajarkan anak berpikir yang logis atau realistis contoh “Ayah pernah malas ke sekolah karena sering diejek oleh teman-teman bahwa Ayah bodoh matematika, memang itu membuat ayah malu, tapi ayah berusaha cari buku-buku cara mudah belajar matematika, cara jitu menguasai rumus matematika dengan cepat,,,awalnya ayah ragu tapi ayah baca halaman demi halaman, ayah tes berkali di kertas coretan ayah..dan terus-menerus ayah mencoba menghafal rumus ini dengan cara menyanyi berulang-ulang kali..ayah merasa menguasainya dan ayah berhasil dapat nilai matematika untuk pertama kalinya”.

Berhati-hati dalam Mengkritik Anak.
Kritik ada dua jenis yaitu kritik yang betul dan kritik yang salah; keduanya dapat berpengaruh nyata apakah anak Anda menjadi optimis atau pesimis.
Aturan pertama dalam mengkritik anak adalah harus teliti. Menyalahkan secara berlebihan menimbulkan rasa bersalah dan malu lebih daripada yang diperlukan untuk membuat anak berubah. Namun, tidak menyalahkan samasekali dapat mengikis rasa tanggung jawab dan meniadakan kemauan untuk berubah.
Aturan yang kedua adalah memberikan penjelasan yang optimis dan uraikan masalah secara terbuka.

Ambil contoh Suzie (8 thn) meninggalkan kamarnya dalam keadaan berantakan  meskipun orangtua sudah tiga kali memintanya membereskan sebelum pergi bermain dengan teman-temannya.  Sang orangtua kesal karena pagi itu rumah mereka akan dilihat oleh agen property. Mereka mau tak mau harus membereskan kamar putrinya.
Penjelasan Optimistis
Suzie, kamu telah berbuat sesuatu yang Ibu dan Ayah marah.” (Kritik sang ibu dengan cermat)
Tadi pagi kami telah tiga kali memintamu membereskan kamar, tetapi tiap kali kamu menundanya.” (Sang Ibu menceritakan masalah dengan cermat)
Karena kamu tidak membereskan kamar, padahal aka nada agen property yang akan melihat-lihat, kami terpaksa membereskan kamarmu, dan meninggalkan pekerjaan lain yang lebih penting. Kamu tentu tahu bahwa membersihkan kamarmu adalah tanggung jawabmu, bukan tanggung jawab kami.” (Sang ibu menjelaskan penyebab masalah dan akibatnya dengan tegas).
Ibu ingin kamu tinggal di kamarmu selama 15 menit untuk merenungkan yang telah ibu katakana, kemudian kamu harus memberitahu Ibu rencana kamu supaya kamarmu tetap rapi, dan kejadian seperti itu tidak terulang. Tulis dikertas 3 cara untuk pecahkan masalah yaitu bagaimana supaya kamar tetap rapi setiap hari. (sangat tepat memberikan tantangan bagi anak usia ini untuk memecahkan masalah)

Anda adalah Model
Anak cenderung meniru perilaku Anda baik itu cara pandang baik maupun buruk. Jika Anda seorang pesimis, maka akan mempengaruhi gaya hidup anak untuk menganut pola piker pesimis. Memang mengubah pola pikir tidaklah mudah.
Tapi, Anda bisa membuat daftar table “Mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif” untuk anak usia 10 ke atas.
Kolom pertama : Masalah anak : misalkan “ nilai matematika jelek.”
Buatlah kolom pikiran negatif : misalkan “Matematika memang membosankan dan buku-bukunya susah dimengerti”

Buatlah kolom pikiran positif : misalkan “Kamu bisa mencari buku-buku yang ditulis dengan gaya yang menarik, atau kamu bisa meminta  bantuan teman yang lebih pintar dan dapat menjadi guru yang baik. (catatan : sebaiknya pikiran Anda yang tulis untuk mengubah pikiran negatif anak)

Jadi, anak-anak perlu diajari bersikap optimis sebagai cara untuk bertahan terhadap depresi dan ancaman gangguan mental serta fisik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar