Sabtu, 28 Juni 2014

CUKUP 20 MENIT SEHARI BERMAIN BERSAMA ANAK



CUKUP 20 MENIT SEHARI BERMAIN BERSAMA ANAK

            Bermain seringkali diterima sebagaimana adanya. Padahal, menurut psikolog perkembangan anak, Dr Mimi Patmonodewo, bermain sangat penting untuk perkembangan kejiwaan anak dan mempererat hubungan orangtua dan anak.
            Dalam sehari orangtua diharapkan menyediakan waktu 20 menit sehari untuk bermain bersama dengan anak.
            Namun, 20 menit itu harus diberikan dengan sepenuh hati dan dengan senang. Dalam saat bermain yang 20 menit itu orangtua membantu anak untuk mengenal atau mempelajari sesuatu yang baru. Bila berhasil dalam permainannya, orangtua member pujian pada anak supaya anak punya kepercayaan diri untuk melakukan hal lebih kompleks. Bila belum berhasil, harapan orangtua menahan diri untuk tidak mengkritik, tetapi membantu anak untuk berusaha menyelesaikan permainannya sehingga anak tidak kehilangan kepercayaan diri.

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
Orangtua sebagai Mediator.
Melalui bermain orangtua selalu bisa mengajari suatu hal baru kepada anak, dan orangtua bertindak sebagai mediator. Dengan mengikutkan semua indra, anak menjadi lebih tertarik dan apa yang dikenalkan menjadi lebih bermakna.
Misalkan, dalam permainan menggunakan bentuk geometris segi tiga, lingkaran atau bujur sangkar dalam ukuran dan warna berbeda (permainan balok bewarna). Permainan ini mengajarkan anak mengenal warna, bentuk, dan ukuran, yaitu sama dan tidak sama. Kekritisan anak melihat perbedaan ini akan sangat berguna, salah satunya ketika anak mulai belajar menulis huruf.

Permainan Tradisional.
Anda bisa menciptakan permainan tradisional didalam rumah atau dihalaman rumah Anda yang cukup luas. Misalkan, untuk anak lebih besar, permainan congklak (dakon) mengajar anak menghargai kejujuran. “Permainan ini tidak membolehkan berlaku curang dalam menghitung biji dakon. Permainan yang nyaris punah ini mengandung nilai kesederhanaan, kedisplinan, kejujuran, membangun sosialisasi.

Praktis.
Alat permainan tidak perluh mahal, bisa diambil dari lingkungan setempat. Cirri-ciri alat permainan yang edukatif adalah alat itu sederhana, aman untuk dipakai misalnya catnya tidak beracun dan bentuknya tidak melukai atau berpeluang mencelakakan anak, bisa dimainkan dengan berbagai cara, dan bila rusak mudah diganti.
Misalkan permainan melatih kerjasama seperti misalkan Anda menyiapkan alat penutup mata dari kain (tidak terpakai lagi) digunting bentuk persegi empat panjang untuk menutupi mata. Pastikan kain itu tidak transparan. Cara bermainnya Anda menutup mata anak Anda, menyuruh memegang gelas plastik berisi air, lalu tugaskan anak lainnya menuntun arah yang memegang gelas berisi air (hanya mengarahkan dan tidak boleh pegang tangan untuk menuntun) dan tugas yang memegang gelas berisi air yaitu menuang air ke  salah satu anak yang memegang gelas plastik kosong yang duduk diatas kursi. (jaraknya harus agak sedikit jauh supaya ada tantangan).

Membangun Empati
Misalkan, dengan bermain engklek dimana anak hanya berdiri dan berjalan dengan satu kaki. Selain mengajar anak merasakan bagaimana menjadi orang cacat sekaligus mengajarkan untuk menghargai anggota tubuh.

Sensitif dan Responsif
Artinya memahami suasana hati (mood anak). Orangtua harus peka misalkan, ketika anak berubah sikap suatu saat dan dengan penuh empati bersikap responsif menghadapi perubahan itu dengan berusaha mencari tahu apa penyebab perubahan sikap pada anak. Dengan interaksi seperti ini hubungan orangtua anak bisa menjadi lebih baik, lebih hangat, dan anak tumbuh dengan empati, penuh percaya diri, dan tidak mencurigai lingkungan. Contoh “anak gagal membangun menara dari balok yang disusun (berantakan) Tugas Anda memahami perasaannya “Ayo anak sayang, mama percaya kamu pasti bisa membangun menara yang tinggi.”

1 komentar: