MENGGUNAKAN ATURAN DAN KONSEKUENSINYA
Peraturan
memberitahukan anak-anak Anda bagaimana Anda mengharapkan perilaku mereka.
Peraturan adalah harapan. Harapan membimbing anak-anak membuat keputusan. Ada
yang tiga faktor yang perlu
dipertimbangkan saat menyusun harapan atau peraturan. Harapan harus terperinci,
masuk akal, dan dapat dipenuhi.
Harapan
bersifat terperinci saat harapan
tersebut dengan tepat menyampaikan apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak Anda
atau apa yang sebaiknya tidak dilakukannya. Contoh :
Kamar tidur dibersihkan setiap Sabtu
pagi sebelum jam 12`
Daftar periksa :
Semua
pakaian kotor ditaruh di keranjang cucian.
Semua
perabotan dibersihkan dan digosok.
Lantai
dipel.
Seprei
diganti.
Semua
mainan ditaruh di kotak mainan.
Semua
pakaian bersih disimpan dilemari.
Harapan-harapan yang terperinci harus
masuk akal. Mampukah anak Anda menyelesaikan harapan atau aturan itu itu?
Daftar yang diatas sudah terperinci, tetapi tidak masuk akal buat anak Anda
yang usia 3 tahun. Anda boleh mengharapkan seorang anak kecil untuk menaruh
pakaian-pakaian dan mainan-mainan, tetapi bukan untuk menyapu lantai dan
menyedot karpet atau menggantai seprei.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
Buatlah
peraturan dan harapan orang tua yang jelas sesuai dengan tingkat usia anak. Misalkan anak 5 tahun aturan :
bermain, harapan terperinci : menaruh mainan pada tempatnya, menyusun mainan
dengan rapi.
Buatlah kegiatan rutin misalkan kegiatan
bersih-bersih, pekerjaan rumah, karna peraturan-peraturan itu membantu Anda
bersikap konsisten. Dengan peraturan yang Anda buat memusatkan perhatian pada
tingkahlaku-tingkahlaku yang diprioritaskan.
Konsekuensi. Anak-anak mendapatkan
konsekuensi positif karena memilih untuk mengikuti peraturan. Mereka
mendapatkan konsekuensi negatif karena tidak mengikuti peraturan. Konsekuensi
harus bersifat terperinci, masuk akal, dan dapat ditegakkan. Kalau anak
melakukan tindakan ini , maka inilah yang akan timbul. Contoh konsekuensi yang baik : Stefani
mendiskusikan aturan bersama ibunya jika ia terlambat makan malam jam 7 berarti
ia tidak boleh bermain dengan teman2 besok, aturan harus ditegakkan tidak ada
kompromi, katakana dengan sopan “minta maaf sayang, kamu telah terlambat makan
karna kamu bermain sampai melewati jam makan malam. Berarti kamu besok tidak
boleh bermain.
Konsekuensi nyata. Hal ini lahir secara
alamiah dalam diri anak karna suatu kebutuhan bukan karna paksaan. Misalkan
kalau anak tidak mandi maka badannya bau, kalau anak tidak belajar maka ia
tidak dapat nilai baik semester ini.
Salam
Peduli Karakter Anak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar