Sabtu, 21 Juni 2014

MENGGUNAKAN ATURAN DAN KONSEKUENSI DENGAN JELAS


MENGGUNAKAN ATURAN DAN KONSEKUENSINYA

    Peraturan memberitahukan anak-anak Anda bagaimana Anda mengharapkan perilaku mereka. Peraturan adalah harapan. Harapan membimbing anak-anak membuat keputusan. Ada yang tiga faktor  yang perlu dipertimbangkan saat menyusun harapan atau peraturan. Harapan harus terperinci, masuk akal, dan dapat dipenuhi.
      Harapan bersifat terperinci saat harapan tersebut dengan tepat menyampaikan apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak Anda atau apa yang sebaiknya tidak dilakukannya. Contoh :
Kamar tidur dibersihkan setiap Sabtu pagi sebelum jam 12`
Daftar periksa :
Semua pakaian kotor ditaruh di keranjang cucian.
Semua perabotan dibersihkan dan digosok.
Lantai dipel.
Seprei diganti.
Semua mainan ditaruh di kotak mainan.
Semua pakaian bersih disimpan dilemari.

Harapan-harapan yang terperinci harus masuk akal. Mampukah anak Anda menyelesaikan harapan atau aturan itu itu? Daftar yang diatas sudah terperinci, tetapi tidak masuk akal buat anak Anda yang usia 3 tahun. Anda boleh mengharapkan seorang anak kecil untuk menaruh pakaian-pakaian dan mainan-mainan, tetapi bukan untuk menyapu lantai dan menyedot karpet atau menggantai seprei.


APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
Buatlah peraturan dan harapan orang tua yang jelas sesuai dengan tingkat usia anak. Misalkan anak 5 tahun aturan : bermain, harapan terperinci : menaruh mainan pada tempatnya, menyusun mainan dengan rapi.
        Buatlah kegiatan rutin misalkan kegiatan bersih-bersih, pekerjaan rumah, karna peraturan-peraturan itu membantu Anda bersikap konsisten. Dengan peraturan yang Anda buat memusatkan perhatian pada tingkahlaku-tingkahlaku yang diprioritaskan.
     Konsekuensi. Anak-anak mendapatkan konsekuensi positif karena memilih untuk mengikuti peraturan. Mereka mendapatkan konsekuensi negatif karena tidak mengikuti peraturan. Konsekuensi harus bersifat terperinci, masuk akal, dan dapat ditegakkan. Kalau anak melakukan tindakan ini , maka inilah yang akan timbul.  Contoh konsekuensi yang baik : Stefani mendiskusikan aturan bersama ibunya jika ia terlambat makan malam jam 7 berarti ia tidak boleh bermain dengan teman2 besok, aturan harus ditegakkan tidak ada kompromi, katakana dengan sopan “minta maaf sayang, kamu telah terlambat makan karna kamu bermain sampai melewati jam makan malam. Berarti kamu besok tidak boleh bermain.
      Konsekuensi nyata. Hal ini lahir secara alamiah dalam diri anak karna suatu kebutuhan bukan karna paksaan. Misalkan kalau anak tidak mandi maka badannya bau, kalau anak tidak belajar maka ia tidak dapat nilai baik semester ini.

Salam Peduli Karakter Anak
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar