Sabtu, 31 Mei 2014

PINTAR + CERDAS = BERHASIL



Setiap menjelang ulangan umum, banyak orangtua mulai was-was. Maklum, di saat-saat itu, para orangtua merasa perlu memacu anak-anaknya untuk lebih rajin belajar. Harapannya, agar anak-anak mereka bisa mencapai nilai yang bagus dan memperoleh peningkatan (rangking) yang bagus pula.
Anggapan banyak orangtua, bahwa nilai yang tinggi, bisa di jadikan indikasi keberhasilan hidup si anak. Makin tinggi pemeringkatan atau prestasi anak yang diraih, makin besar pula sukses hidup yang diraih si anak. Karena itu, tidak mengherankan bila banyak orangtua akan memaksa anak-anaknya untuk belajar keras, agar bisa mencapai nilai yang tinggi. Cara berpikir seperti ini, adalah cara berpikir sederhana dari sebagian besar orangtua Indonesia dalam memahami pendidikan.
Lantas, apakah orang yang memiliki IQ atau pengetahuan yang tinggi akan sukses dalam meraih masa depannya ? apakah mereka yang mempunyai IQ rendah, tidak berhasil dalam hidupnya ?
Belum tentu. Dalam buku Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosi/Mental), menyatakan bahwa “Keberhasilan hidup seseorang, 20 persen ditentukan oleh IQ dan 80 persen ditentukan oleh Emotional Intelligence”.
Keberhasilan hidup, lebih banyak ditentukan bagaimana seseorang mampu membawa diri, berpikir kristis, mampu mengolah emosi (sabar, pantang menyerah, optimis, kerja keras), mampu menempatkan diri dalam hubungan dengan orang lain.
Contoh spesifik, banyak pejabat yang pintar tersandung kasus KORUPSI
   Atau dengan kata lain, punya IQ tinggi, tapi EQ rendah. Masalah korupsi merupakan masalah ketidakjujuran..berdasarkan emotial intelligence, sejak kecil, anak di ajarkan, kalau ujian, tidak mampu lagi kerja soal, lebih baik menyontek saja. Ketidakjujuran terbawa hingga besar dan bisa merugikan banyak orang. Good Reading…

Kamis, 29 Mei 2014

BANYAK MENGANCAM


“Adik, jangan naik ke atas meja, nanti jatuh nggak ada yang menolong!”, “Jangan main di luar malam-malam nanti di tangkap nenek sihir, mukanya tua dan menyeramkan”.
Contoh di atas merupakan realita dalam kehidupan orangtua dengan anak, orangtua yang ingin anaknya patuh dan mendengarkan apa yang dikatakan, seperti misalnya menghadapi anak yang menangis trus, tidak mau diam, orangtua yang kewalahan dan nggak sabar bisa saja menggunakan metode mengancam anaknya seperti contoh “jangan nangis, nanti di suntik di pantat mu oleh dokter.”
Dari sisi anak, pernyataan yang sifatnya melarang atau pertintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernytaan itu sudah termasuk ancaman terlebih ada kalimat tembahan “nanti di marah papa/mama.”
Metode ancaman sangat mempengaruhi emosional anak dan psiko-sosial anak. salah satu contoh : ”Jangan main-main diluar nanti di culik sama orang luar yang menyeramkan” secara tidak sadar, timbulnya rasa tidak percaya dengan orang-orang sekitarnya, akan takut dengan orang asing yang menyeramkan (sekalipun dia itu adalah om, paman dsb), relasi sosial dengan teman-teman terhambat, hanya bermain dekat dengan tetangga sebelah takut bermain dengan  teman-teman di rumah yang jauh. Karna anak menginterpretasi bahwa lingkunganya ini semua penjahat, orang yang menyeramkan, karena ancaman orangtua tadi.
Lebih lanjut, kita menuntaskan masalah ini..Good Reading
  

Banyak Mengancam

Seorang anak, anak adalah makhluk yang sangat pandai mempelajari pola orangtuanya, dia tidak hanya bisa mengetahui pola orangtuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya.
Hal itu terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan.
Seperti contoh tadi diatas “anak akan disuntik oleh dokter, jikalau tidak diam”. Kata ancaman. Anak akan timbul rasa tidak percaya atau takut dengan dokter, saat berhubungan dengan dokter jika anak sakit.
Apa yang sebaiknya dilakukan ?
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. Tatap matanya dengan lembut, namun perlihatkan bahwa ekpresi kita tidak senang, dengan tindakan yang mereka lakukan.
Sikap itu juga dipertegas dengan  kata-kata “Sayang, papa/mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu! Papa/mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan  ancaman atau teriak-teriakan atau menjelaskan suatu peryataan yang konsekuensi, misal “Sayang bila kamu tidak meminjamkan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. Mainan akan papa/mama keluarkan, bila kamu mau meminjamkan mainan itu ke adikmu”. Tetapi pernyataan itu kita harus dengan tindakan yang nyata.


Selasa, 27 Mei 2014

MENYAYANGI WAJAR, HINDARI MEMANJAKAN



Salam, Kids’parents

Perkembangan sosial-ekonomi, ilmu pengetahuan serta wawasan baru yang terjadi selama ini, berpengaruh pada struktur kehidupan keluarga. Semakin banyak orangtua yang waktunya habis di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bagi orangtua yang keduanya bekerja penuh, kebanyakan lantas menitipkan anaknya kepada ibu pengganti. Bisa kepada nenek, atau menggaji pengasuh anak. Kondisi semacam ini dialami oleh keluarga terutama di kota-kota besar. Tentu saja pola pengasuhan anak seperti ini menimbulkan banyak problem.

Hal yang terpenting disini adalah, bagaimana orangtua ditengah kesibukan mereka tetap memberikan kasih sayang kepada anak mereka. Menyayangi adalah tidak identik dengan memanjakan. “Jangan memanjakan anak sebagai imbalan atas hilangnya waktu bersama anak akibat kesibukan orangtua. Apalagi memanjakan anak karena merasa berdosa, karena meninggalkan anak seharian.

Mungkin anda sebagai orangtua sangat sayang sekali dengan anak anda, yang adalah sewata wayang, anak yang istimewa, yang cacat dsb. Okey, saya tidak memaksakan ! tapi Kasih sayang kepada anak harus pas tidak boleh berlebihan dan tidak boleh kekurangan, kedua-keduanya bisa akan bearkibat fatal.

Lebih lanjut kita membahasa secara bersama-sama masalah tingkah laku dan cara yang tepat dalam pola pengasuhan anak seperti masalah diatas.

Selamat membaca..........Tuhan Yesus Memberkati



Minggu, 25 Mei 2014

KEBUTUHAN FINANSIAL PENTING UNTUK ANAK



            Salam Peduli Karakter Anak

Seorang teman pernah bercerita, ketika dia akan berangkat kerja, anaknya menangis tidak mau ditinggal. “Kalau Ibu tidak kerja, ibu tidak mendapat uang. Kita tidak bisa membeli susu buat kamu,” bujuk sang ibu.
Tetapi, apa jawaban si anak? “Ibu enggak boleh kerja. Kalau mau beli susu, uangnya ambil saja di ATM,” ujar sang anak.
Contoh kecil di atas menujukkan pendidikan finansial yang seharusnya diajarkan kepada anak sejak kecil. Tujuannya menumbuhkan displin dan membantunya mengelolah uang yang tepat kelak.
Orangtua harus memberi contoh terlebih dahulu sebelum mengharapkan anak mampu memiliki kecerdasan dan ketrampilan finansial.
Contoh anak melek finansial: Anak “Ibu ini hasil tabunganku, pakailah ini untuk ibu bisa berobat ke dokter agar ibu cepat sembuh”. Ibu (menangis)..ohhh no..like TITANIC FILM. Pasti anda sebagai orangtua bangga kalau anak anda sudah mampu mengelolah uangnya sendiri dengan baik.

Apa yang sebaiknya dilakukan???
            Ada beberapa aspek harus diajarkan orangtua pada anak yakni uang, tabungan dan investasi, kekayaan, utang, kemapanan, dan ketidakpastian.
Uang. Anak usia tiga tahun sudah mengenal konsep jual beli. Mereka bisa menukarkan uang dengan berbagai benda yang mereka inginkan, seperti mainan, makanan, dan minuman.
“sebelum pergi ke pasar swalayan, orangtua harus terlebih dahulu menanyakan pada anak, apa saja yang ingin dibeli oleh anak. Jika anak ingin membeli coklat dan es krim yang harganya mencapai Rp. 5000, maka berilah anak uang Rp. 5000. Biarkan anak membawa dan membayar sendiri belanjaannya. Penekaan kepada anak. Kalau belinya pas Rp. 5000 berarti tidak boleh lebih dari Rp. 5000. Lakukan ini berulang2 setiap ada kesempatan agar anak mengerti konsep uang sebagai alat tukar. Hal ini mengajarkan tanggung jawab dan belanja menahan keinginan hingga uangnya cukup.     
Tabungan dan Investasi. Menabung berarti mengumpulkan uang untuk suatu tujuan tertentu dalam kurun waktu tertentu. Menabung bekaitan erat dengan kedisplinan. Sebelum usia sekolah, celengan bisa dijadikan sarana latihan.
Investasi berarti mengharapkan hasil atau keuntungan dari pokok yang ditanamkan. Ketika usia remaja, dia bisa diajak  berpikir bahwa uang yang dimilikinya bisa digunakan untuk sesuatu yang memberi keuntungan. Contoh : anak menggunakan uangnya untuk membeli buku cetak, keperluan pribadi dll.
Kekayaan. Penekanan kepada anak kekayaan adalah kepemilikan. Contoh : orangtua membelikan HP buat anaknya yg sudah remaja, tapi beberapa bulan kemudian anak merusakkan hp tersebut. Maka orang tua bisa mengambil kembali. Mengajarkan tanggung jawab anak untuk menjaga barang2 yang dimilikinya.
Utang. Utang diajarkan sebagai pinjaman atau menyewa, namun menuntut tanggung jawab. Saat anak sudah lulus SMA pengertian mengenai utang dapat dijelaskan. Contoh : kamu boleh beli barang dengan cara mencicil tapi untuk barang yang nilainya tinggi seperti rumah dll.
Kemapanan. Kemampuan seseorang untuk memenuhi semua kebutuhannya sesuai dengan standar hidupnnya, tidak bergantung pada pemberian oranglain.
Ketidakpastian. Persiapkan anak ketidak ia menghadapi ketidakpastian setelah ia lepas dari tanggung jawab  orangtua.
Caranya ketika anak sudah remaja, bicarakan masalah keuangan secara terbuka. Berpa penghasilan keluarga, berapa pengeluaran untuk berbagai kebutuhan seperti makanan, pakaian dll. biarkan anak berlatih mendapat uang saku sendiri.

            Mengajarkan anak menabung sejak kecil sudah memberikan nilai besar bagi si anak, orangtua dan masyarakat. Selamat berjuang mendidik buah hati anda.

By : Astian Leba (Mhs S1)

Kamis, 22 Mei 2014

BERSIKAP TIDAK ADIL



KIKIR PUJIAN

            Welcome to my blog..the wonderfull of children..edisi kita hari ini berbicara tentang Kikir Pujian”. Wah topik ini agar sedikit pedas yahh…berbicara tentang kikir pujian bukan berarti anda kikir pada anak anda seperti tidak memberi uang jajan, membeli pakaian. Tapi kikir pujian lebih identik dengan orang tua yang lebih perhatikan perilaku buruk anak ketimbang perilaku baik. Sehingga orangtua lebih akrab dengan hukuman  ketimbang pujian.

DAMPAK NEGATIF TERHADAP ANAK
USIA 0-12 BULAN : IKATAN KASIH SAYANG TERHAMBAT
Masa bayi adalah masa awal belajar segala sesuatu, termasuk emosi. Biasanya orangtua memuji seraya tersenyum, ada rasa senang dan bangga yang terpancar. Ekspresi positif tidak akan dapat dipelajari oleh bayi apabila ia tak pernah menerima pujian. Selain itu, pujian dapat meningkatkan afeksi antara orangtua dengan bayi. Jika ikatan ini hilang, maka kedekatan emosional orangtua dan bayinya akan terhambat.

USIA 1-3 TAHUN : SULIT PERCAYA ORANG LAIN
Di usia ini anak belajar mempercayai orang lain. Pembelajaran ini akan lebih mudah apabila orang lain juga mempercayainya. Nah, dengan dipuji, anak merasa dipercaya bahwa ia mampu melakukan yang baik dimata orang tuanya. Hal sebaiknya akan terjadi bila orangtua tak pernah memuji; anak merasa tak dipercaya sehingga ia pun akan sulit untuk percaya pada orang lain.


USIA 3-5 TAHUN : JADI RAGU DAN MALU
Anak tengah mengembangkan kemandiriannya, seperti makan, mandi, berpakaian, dan tidur sendiri. Jika tindakannya ini tidak dihargai dengan tidak adanya pujian dari orangtua, maka bukan kemandirian yang akan berkembang. Justru yang akan muncul adalah rasa ragu dan malu karena ia tak tahu apakah tindakannya benar atau tidak.

USIA 6-12 TAHUN : MERASA TERTEKAN
Anak memasuki dunia sekolah yang lebih berat. Untuk menghadapi tuntutan akademis . ia perlu didukung suasana menyenangkan, termasuk pujian terhadap prestasi belajarnya. Kalau tidak, ia akan merasa tertekan. Yang kemudian muncul adalah rasa rendah diri karena ia merasa semua karyanya, terutama hasil belajarnya di sekolah, tak dihargai orangtuanya selanjutnya akan berdampak pada prestasi belajar rendah.

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
·         Mulailah memberi pujian secara eksplisit dan jelas perilaku yang dipuji agar anak tahu ia mendapat pujian karena apa. Dengan demikian ia akan belajar bahwa perilaku tersebut disukai orangtua sehingga ia akan melakukannya kembali.
·         Pada anak usia pra-sekolah, pujian bisa dipadukan dengan pemberian hadiah  karena anak usia ini sudah mengerti konsep hadiah. (Catatan : hendaknya memberi hadiah tidak terlalu besar..misalkan member coklat yang kecil, esoknya lagi semakin besar karena hadiah diberikan lebih, lebih, dan lebih dan pemberian hadiah disesuaikan dengan minat atau kebutuhan anak..kalau ia suka coklat jangan anda kasih dia permen..it’s so funny right???)
·         Kalau memberi pujian kepada bayi (usia 0-12 bulan), berdasarkan perkembangan bahasa bayi mulai tertawa, mulai bercoleteh antara 9-12 bulan. Mereka berkomunikasi melalui bahasa tubuh seperti menangis, meraba, gerakan. Jadi pujian yang tepat untuk usia ini adalah memeluknya, menggendongnya sambil tersenyum.

Jadi, anak anda ingin mendapat pengakuan dan perhargaan berupa pujian ang tulus dan tidak dibuat oleh orangtua.. selamat berjuang mendidik buah hati anda.

By : Astian Leba (Mhs PAK)