SIKAP KETIDAKSOPANAN ANAK
Penyebab anak bersikap kasar, tidak sopan, adalah sesuatu
yang alamiah: anak tersebut tersebut tengah mencari cara untuk “dianggap”,
untuk menunjukkan dirinya berarti. Dan ia akan kerap mencoba untuk mendapatkan
posisi di rumah melalui tingkah laku mencari perhatian dan kekuasaan.
Penyebab lainya ialah karena orangtua terkadang
mencontohkan ketidaksopanan di hadapan anak-anak dengan berbicara kasar kepada
suami/istri, keluarga, atau teman, atau menggunakan pernyataan-pernyataan yang
brutal dan sarkasme dalam upaya mengendalikan perilaku anak-anak mereka.
Penyumbang lain bagi wabah sikap kasar ini adalah media
massa, televisi, film, permainan video, dan music pop. Orangtua harus memahami
bahwa media popular tidak hanya mendorong ketidaksopanan, tetapi juga menghadiahinya
dengan tawa karakter lain dan naiknya pamor sang aktor. Kendati barangkali
dibenarkan oleh karakter dewasa jahat, pesan pertunjukan ini adalah bahwa sikap
kasar membuat seorang anak mendapat banyak perhatian.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
MENGENALI
KEKASARAN
Mengenal kekasaran sebagai suatu bentuk komunikasi yang
tidak Anda sukai. Yang paling sulit dari langkah ini adalah menerima penilaian
Anda terhadap komunikasi sang anak. Bisa jadi Anda merasa gusar dengan
kekasaran anak Anda, bahkan merasa terluka sampai tidak dapat berkata-kata,
lantas merasa bersalah telah berperasaan buruk ketika anak Anda mengatakan
bahwa ketidaksopanannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk melukai siapa
pun. “Aku nggak bermaksud begitu, kok,”
mungkin saja anak berkata demikian dengan raut muka tak berdosa. “Ibu terlalu
berlebihan. Deh” sebagai orangtua yang bijak harus mengakhiri perasaan bersalah
anak dengan memeluk sang anak dan meminta maaf atas sikap yang berlebihan itu
dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Yang terpenting apakah pernyataan
anak melukai Anda, mempermalukan Anda, mengganggu Anda, atau membuat Anda
merasa tak berdaya itulah sikap membangkang.
MEMILIH
KONSEKUENSI
Langkah kedua adalah memilih konsekuensi yang tepat untuk perilaku
tersebut. Anda sebaiknya melakukan hal ini sebelumnya atau sebelum insiden
terjadi. Contoh kasus Santi (12 thn) Ibu
Santi sedang sedang berbicara dengan temannya. Santi berkata ”Aku mau ke rumah
Fani” Dia baru saja akan berbalik ketika
teman Ibu Santi, berkata “Hai Santi” Santi mengabaikan sapaan teman Ibunya dan
berkata kepada Ibunya, “…aku di sana sampai makan malam.” Ibunya, sedikit malu
akan perilaku anak perempuannya, berkata, “Jangan sampai malam” Santi hanya
mengguman, “Masa bodoh,” dan keluar membanting pintu”. Konsekuensi yang tepat
adalah larangan untuk pergi ke rumah temannya. Setiap perilaku yang kasar
hendaknya diartikan anak itu tidak boleh melakukan, mendapatkan apa yang
diinginkannya, atau yang telah direncanakannya seperti pegi ke tempat berlatih sepak
bola atau menari. Konsekuensi ini dilakukan saat Anda telah mengetahui sikap
ketidaksopanaan anak yaitu Santi mengabaikan sapaan ibu temannya
ditindak-lanjuti dengan konsekuensi logis tadi.
MEMBERLAKUKAN
KONSEKUENSI
Supaya efektif, konsekuensi terhadap sikap hendaknya segera dan
logis. Setelah memilih konsekuensi paling logis, orangtua harus memberlakukan
konsekuensi dengan segera, tanpa member kesempatan lain bagi sang pelaku, tak
peduli bagaimana kerasnya ia memohon dan berjanji untuk berubah.
Poin-poin penting yang
perlu Anda ingat dalam menanggapi ketidaksopanan anak dan bersiap-siaplah
memberlakukan konsekuensi : Pertama, bicarakan hanya perasaan dan pikiran Anda,
bukan tentang perbuatan atau perkataan salah si anak.mis : “Menurut Ibu, omongan
seperti itu tidak pantas, dan membuat Ibu merasa tidak enak.” Karena itu Ibu
putuskan kamu untuk tidak membawamu ke rumah Susan. Kedua, gunakan nada dan
kata-kata yang sopan bukan kata2 yang mendendam, katakan “Menurut Ibu,
kata-kata itu menghina”. Ketiga, kaitkan konsekuensi dengan perbuatan atau
perkataan yang dilontarkan. Misalnya “Karena kamu menyebut Ibu bodoh waktu Ibu
minta kamu memungut mainanmu. Ibu akan menyingkirkan mainan ini untuk sementara
waktu. Keempat, jangan memberikan si anak memohon untuk kesempatan lain,
teruskan konsekuensi Anda. Kelima,
Gunakanlah perasaan Anda sebagai alas an. Katakanlah ,”Ibu merasa sedih”
; “Ayah merasa tidak enak” untuk memberlakukan konsekuensi.
MELEPASKAN
DIRI DARI PERTENGKARAN
Langkah ke-4 adalah bahwa orangtua, dengan melepaskan
diri dari pertarungan, menunjukkan tidak lagi berminat menanggapi tindakan
protes. Hasilnya, anak memahami bahwa perilaku ini tidak akan membuat dia
mendapatkan perhatian atau keinginannya, kekuasaan dan pembalasan. Cara
melepaskan diri dari pertengkaran adalah jangan beragumen atau berdiskusi,
untuk menghentikan permohonan dan protes si anak, menyibukkan diri dengan hal
lain, jangan memperlihatkan ekpresi wajah Anda, nada atau suara setelah Anda
memberikan konsekuensi pada anak. Anak segera akan menghentikan perilaku
tersebut karena tidak lagi mendapatkan tanggapan perhatian-negatif yang ia
inginkan dari Anda yaitu membuat Anda terluka atau marah.
Sampai
disini dulu yaah selamaat berjuaannng dalam mendidik anak-anak Anda.. TYM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar