Sabtu, 27 September 2014

SIKAP KETIDAKSOPANAN ANAK


SIKAP KETIDAKSOPANAN ANAK

            Penyebab anak bersikap kasar, tidak sopan, adalah sesuatu yang alamiah: anak tersebut tersebut tengah mencari cara untuk “dianggap”, untuk menunjukkan dirinya berarti. Dan ia akan kerap mencoba untuk mendapatkan posisi di rumah melalui tingkah laku mencari perhatian dan kekuasaan.
            Penyebab lainya ialah karena orangtua terkadang mencontohkan ketidaksopanan di hadapan anak-anak dengan berbicara kasar kepada suami/istri, keluarga, atau teman, atau menggunakan pernyataan-pernyataan yang brutal dan sarkasme dalam upaya mengendalikan perilaku anak-anak mereka.
            Penyumbang lain bagi wabah sikap kasar ini adalah media massa, televisi, film, permainan video, dan music pop. Orangtua harus memahami bahwa media popular tidak hanya mendorong ketidaksopanan, tetapi juga menghadiahinya dengan tawa karakter lain dan naiknya pamor sang aktor. Kendati barangkali dibenarkan oleh karakter dewasa jahat, pesan pertunjukan ini adalah bahwa sikap kasar membuat seorang anak mendapat banyak perhatian.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
MENGENALI KEKASARAN
            Mengenal kekasaran sebagai suatu bentuk komunikasi yang tidak Anda sukai. Yang paling sulit dari langkah ini adalah menerima penilaian Anda terhadap komunikasi sang anak. Bisa jadi Anda merasa gusar dengan kekasaran anak Anda, bahkan merasa terluka sampai tidak dapat berkata-kata, lantas merasa bersalah telah berperasaan buruk ketika anak Anda mengatakan bahwa ketidaksopanannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk melukai siapa pun.  “Aku nggak bermaksud begitu, kok,” mungkin saja anak berkata demikian dengan raut muka tak berdosa. “Ibu terlalu berlebihan. Deh” sebagai orangtua yang bijak harus mengakhiri perasaan bersalah anak dengan memeluk sang anak dan meminta maaf atas sikap yang berlebihan itu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Yang terpenting apakah pernyataan anak melukai Anda, mempermalukan Anda, mengganggu Anda, atau membuat Anda merasa tak berdaya itulah sikap membangkang.
MEMILIH KONSEKUENSI
            Langkah kedua adalah memilih konsekuensi yang tepat untuk perilaku tersebut. Anda sebaiknya melakukan hal ini sebelumnya atau sebelum insiden terjadi. Contoh kasus  Santi (12 thn) Ibu Santi sedang sedang berbicara dengan temannya. Santi berkata ”Aku mau ke rumah Fani”  Dia baru saja akan berbalik ketika teman Ibu Santi, berkata “Hai Santi” Santi mengabaikan sapaan teman Ibunya dan berkata kepada Ibunya, “…aku di sana sampai makan malam.” Ibunya, sedikit malu akan perilaku anak perempuannya, berkata, “Jangan sampai malam” Santi hanya mengguman, “Masa bodoh,” dan keluar membanting pintu”. Konsekuensi yang tepat adalah larangan untuk pergi ke rumah temannya. Setiap perilaku yang kasar hendaknya diartikan anak itu tidak boleh melakukan, mendapatkan apa yang diinginkannya, atau yang telah direncanakannya seperti pegi ke tempat berlatih sepak bola atau menari. Konsekuensi ini dilakukan saat Anda telah mengetahui sikap ketidaksopanaan anak yaitu Santi mengabaikan sapaan ibu temannya ditindak-lanjuti dengan konsekuensi logis tadi.
MEMBERLAKUKAN KONSEKUENSI
            Supaya efektif, konsekuensi terhadap sikap hendaknya segera dan logis. Setelah memilih konsekuensi paling logis, orangtua harus memberlakukan konsekuensi dengan segera, tanpa member kesempatan lain bagi sang pelaku, tak peduli bagaimana kerasnya ia memohon dan berjanji untuk berubah.
Poin-poin penting yang perlu Anda ingat dalam menanggapi ketidaksopanan anak dan bersiap-siaplah memberlakukan konsekuensi : Pertama, bicarakan hanya perasaan dan pikiran Anda, bukan tentang perbuatan atau perkataan salah si anak.mis : “Menurut Ibu, omongan seperti itu tidak pantas, dan membuat Ibu merasa tidak enak.” Karena itu Ibu putuskan kamu untuk tidak membawamu ke rumah Susan. Kedua, gunakan nada dan kata-kata yang sopan bukan kata2 yang mendendam, katakan “Menurut Ibu, kata-kata itu menghina”. Ketiga, kaitkan konsekuensi dengan perbuatan atau perkataan yang dilontarkan. Misalnya “Karena kamu menyebut Ibu bodoh waktu Ibu minta kamu memungut mainanmu. Ibu akan menyingkirkan mainan ini untuk sementara waktu. Keempat, jangan memberikan si anak memohon untuk kesempatan lain, teruskan konsekuensi Anda. Kelima,  Gunakanlah perasaan Anda sebagai alas an. Katakanlah ,”Ibu merasa sedih” ; “Ayah merasa tidak enak” untuk memberlakukan konsekuensi.
MELEPASKAN DIRI DARI PERTENGKARAN
            Langkah ke-4 adalah bahwa orangtua, dengan melepaskan diri dari pertarungan, menunjukkan tidak lagi berminat menanggapi tindakan protes. Hasilnya, anak memahami bahwa perilaku ini tidak akan membuat dia mendapatkan perhatian atau keinginannya, kekuasaan dan pembalasan. Cara melepaskan diri dari pertengkaran adalah jangan beragumen atau berdiskusi, untuk menghentikan permohonan dan protes si anak, menyibukkan diri dengan hal lain, jangan memperlihatkan ekpresi wajah Anda, nada atau suara setelah Anda memberikan konsekuensi pada anak. Anak segera akan menghentikan perilaku tersebut karena tidak lagi mendapatkan tanggapan perhatian-negatif yang ia inginkan dari Anda yaitu membuat Anda terluka atau marah.

Sampai disini dulu yaah selamaat berjuaannng dalam mendidik anak-anak Anda.. TYM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar