Sabtu, 20 September 2014

DI BALIK KENIKMATAN TELEVISI PADA ANAK



DI BALIK KENIKMATAN TELEVISI PADA ANAK

       Ini saran klasik tapi sangat berguna dalam membantu kakak-adik hidup akur. Semua pakar pendidikan anak anak setuju kalau televisi merupakan musuh terbesar pendidikan. Anak-anak yang kecanduan menonton televisi biasanya lebih pasif, kurang mempunyai keinginan beprestasi, dan cenderung lebih agresif kalau acara yang di tonton tidak terlebih dahulu disensor orangtua.
    Jika program televisi yang ditonton menawarkan nilai-nilai kekerasan, persaingan, kesenangan, dan kepuasan pribadi, anak akan berasumsi kekerasan seperti memukul kakak/adik adalah suatu yang normal dan dapat diterima oleh lingkungan. Hal ini dikarenakan anak balita sulit membedakan antara realitas hidup dan apa yang ditampilkan di televisi.
     Kasus seorang kakak meninju adiknya yang mengambil coklatnya. Kasihan benar. Tapi itulah akibat pembelajaran dari televisi dan pelbagai game /playstation atau games komputer yang mengajar anak untuk selalu menang dengan menghalalkan segala cara termasuk mengalahkan orang lain dengan cara kekerasan entah memukul, menembak, ataupun menyakiti lewat kata-kata. Budaya bersaudara, berkasih sayang, bersolidaritas, sehati sejiwa, tenggang rasa menjadi sirna dan tak terpelihara karena pengaruh kuat televisi yang menekankan bahwa kekuasaan dan daya tarik fisik adalah yang lebih penting.
      Ada kesan umum dimana orangtua merasa lega dan tertolong untuk sesaat karena jika anak-anak menonton televisi, mereka tidak bertengkar, tidak berkelahi, tidak membuat anak kenakalan lain. Tetapi kalau dilihat lebih jauh, anak-anak justru tidak mendapat kesempatan belajar menyelesaikan konflik, masalah, persoalan yang mereka temukan antar saudara dirumah. Efeknya, mereka tidak hanya kurang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dirumah.
   Anak-anak sebetulnya menjadi miskin dalam pengalaman hidup sosial, hidup bersaudara, anak-anak tak tahu mencari jalan keluar bersama, tak tahu mendengarkan, tak tahu menerangkan, mereka hanya belajar dari tontonan televisi yang agresif yaitu menyelesaikan masalah dengan berkelahi, memukul, menipu, dan sebagainya.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
       Batasi Waktu. Membatasi jam menonton televisi bagi anak-anak merupakan usaha besar dan banyak keluarga mengalami kebuntuan. Berembuklah bersama anak-anak terangkanlah pengaruh positif dan negatifnya sejelas mungkin dan ajaklah mereka bersama-sama menentukan jam menonton mereka untuk anak dibawah usia dua tahun sebaiknya tidak menonton televisi, waktu mereka lebih baik digunakan u/ berinteraksi dengan orang disekitarnya. Batasi anak untuk menonton setengah jam/hari untuk pra-sekolah maksimum satu jam dan sebaiknya dibagi menjadi dua bagian (misalnya 30 menit dipagi hari dan 30 menit disore hari). Untuk anak usia sekolah, sebaiknya dibatasi lima jam/minggu.
     Carilah Informasi. Orangtua perlu mencari informasi mengenai film-film tersebut yang sifatnya mendidik. Karena mengajarkan anak tentang perasaan, memberikan petunjuk bagaimana menjadi teman yang baik, memberikan pandangan mengenai kehidupan di negara lain. Selain mendidik, baik juga menonton film-film yang mengandung humor yang dapat menghibur anak.
       Waktu Senggang. Kita dapat membantu anak-anak mengurangi menonton televisi dengan memberi contoh tidak menonton berlebihan misalnya dengan menggunakan waktu senggang untuk membaca buku, olahraga atau ke taman.
     Temani Nonton. Sangatlah perlu juga mendampingi anak-anak dalam menonton televisi, agar orangtua tahu apa yang ditonton anak-anak dan dapat mengarahkan anak-anak pada waktunya. Kita dapat menjelaskan pada anak bahwa seseorang yang ingin menolong dan melakukan tindakan kekerasan yang mereka lihat di televisi tidaklah benar. Di dalam keluarga, tidak diizinkan menyakiti oranglain (kakak/adik) dengan alasan untuk menolong. Ada cara-cara lain yang lebih membangun dalam memecahkan masalah seperti berunding atau melalui jalur hukum.
       Bukan di Kamar Anak. selain itu jangan meletakkan televisi di kamar anak karena hal ini mengurangi kontrol kita terhadap lamanya anak menonton dan acara yang ditontonnya.
           
        Sampai disini dulu yahh selamat berjuang dalam mendidik anak-anak Anda. GBU.
Kata-kata bijak
Anak Adalah titipan Tuhan, ketika anak mengalami kesusahan, maka Anak  akan datang kepada Orangtua sebagai tempat untuk bertumpu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar