Kamis, 11 September 2014

GUNAKAN HUKUMAN YANG MEMBERI PELAJARAN



GUNAKAN HUKUMAN YANG MEMBERI PELAJARAN

      Hukuman yang benar adalah hukuman yang jarang digunakan karena memang jarang diperlukan. Ini adalah hukum emas bagi hukuman. Hukuman bertujuan mengurangi perilaku negatif. Banyak orangtua memusatkan perhatian pada hukumannya bukan pada kenakalannya. Kalau Anda menghukum anak Anda lima atau enam kali sehari atas kesalahan yang sama, itu artinya hukuman tidak manjur. Suatu hukuman harus dapat mengubah kenakalan. Kalau tidak cobalah hukuman lain. Barangkali Anda berpikir bahwa berteriak, mengancam, memarahi, dan memukul pantat adalah hukuman-hukuman yang baik. Reaksi-reaksi ini melampiaskan amarah Anda. Reaksi-reaksi ini bukanlah hukuman yang baik.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
            Jangan Menghukum Saat Anda Sedang Marah.  Kalau Anda marah karena suatu kenakalan, Anda mengajar anak Anda cara merebut kendali atas keadaan emosional pikiran Anda. Anda memberi anak Anda kekuasaan atas diri Anda. Ini merupakan imbalan. Kenakalan itu akan diperkuat, bukan dihukum. Sebagai hasilnya, kenakalan itu akan bertambah. Kalau Anda menemukan diri Anda sedang marah, pergi dan buanglah amarah Anda lebih dahulu serta jangan tunjukkan ekpresi marah Anda saat menghukum anak Anda.  Alasanya hanya satu yaitu Anda memberi pelajaran kepada anak-anak Anda bahwa hukuman adalah suatu bentuk balas dendam dan anak tidak dapat membuat keputusan yang lebih baik.
            Gunakanlah Hukuman Secara Konsisten. Hukuman harus dilaksanakan secara konsisten. Sekali Anda memutuskan untuk menghukum sebuah perilaku negatif, selalu lakukanlah demikian. Kalau Anda hanya menghukum bila Anda merasa suka menghukum, Anda hanya memperburuk masalah. Walaupun Anda sedang lelah anak sedang melakukan kesalahan jangan biarkan perilaku negatif itu lolos dari perhatian Anda. Supaya anak belajar bahwa Anda betul-betul menaruh perhatian kepada anak Anda terhadap perilaku negatifnya agar bisa dikurangi.
            Bertindaklah Rasional. Hukuman harus masuk akal. Hukuman yang singkat dan ringan lebih manjur daripada hukuman yang keras. Contoh : anak tidak mau makan sayur, hukum saja dia dengan tidak memberi makan penutup yang biasa disukainya. Kalau hukuman dapat masuk akal, anak-anak dapat  dengan baik mempelajari mana perilaku penting.
Anda dapat memperbaiki perilaku nakal dengan menggunakan umpan-balik positif untuk memperkuat lawan dari kenakalan itu. Contoh anak sedang bertengkar “Kalau kalian tidak berhenti bertengkar, kalian akan dihukum selama 1 minggu” tunjukkan kebalikkan dari bertengkar yaitu berkerjasama. Contoh anak sedang berbagi “Ibu senang sekali melihat kalian bersenang-senang”. Jadi hukuman dengan umpan balik positif haruslah seimbang.

            Oke sampai disini dulu yahh tetap semangat dalam mendidik anak-anak Anda. TYM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar