Selasa, 30 September 2014

MEWUJUDKAN RUMAH SEBAGAI ZONA BEBAS DARI KEKASARAN




MEWUJUDKAN RUMAH SEBAGAI ZONA BEBAS DARI KEKASARAN

    
    Rumah yang bebas dari sikap kasar merfleksikan kasih sayang yang ada dalam keluarga, kedekatan anggota keluarga satu sama lain, rasa nyaman saat bersama, dan hal-hal yang baik dari kehidupan keluarga.
      Jika Anda memiliki gagasan yang jelas tentang perilaku yang Anda inginkan dari keluarg, akan lebih mudah bagi Anda menghadapi problem ketidaksantunan  anak. Anda perlu menghilangkan setiap bentuk komunikasi yang  gagasan ini. artinya kedua orangtua perlu mencontohkan perilaku saling menghargai satu sama lain demi anak-anak mereka.
        Berikut ini adalah sejumlah contoh rumah/keluarga tempat terjadinya bentuk-bentuk komunikasi negatif :
Rumah/Keluarga Kompetitif. Dalam rumah ini, anak-anak harus bersaing untuk mendapatkan perhatian dengan bertingkah laku dalam cara yang negative, kuat, dan/atau mengendalikan, dengan mengatakan atau melakukan sesuatu yang akan membuat orangtua lebih memerhatikan mereka dibandingkan anak-anak lain.
Rumah/Keluarga Hening. Di sini, orang jarang berbicara, makan bersama, atau berinteraksi dengan cara lain. Terkadang, anggota keluarga terlalu lelah untuk mengenal satu sama lain. Terkadang, mereka terlalu marah dengan yang terjadi di dunia luar sehingga sulit untuk bergembira.
Rumah/Keluarga yang Kasar. Anggota keluarga jenis ini menggunakan rumah sebagai tempat untuk melampiaskan perasaan buruk. Bukan berarti keluarga ini kejam, melainkan lebih karena ia penuh dengan perasaan marah yang seakan meracuni udara dalam rumah. Orang berbicara satu sama lain dengan kasar dan jarang mengucapkan kata yang menggembirakan.
Rumah/Keluarga yang Tegang. Disebut demikian jika satu atau lebih figur dewasa yang berwenang memiliki sifat yang dengan sopan disebut bersaraf halus dan berlebihan dalam menyemburkan kemarahan, sering mengeluarkan geraman menegangkan atau ekspresi tidk menyenangkan yang lain.

     Rumah-rumah di atas terbentuk oleh norma komunikasi keluarga. Kesemuanya menyemaikan benih kekasaran pada anak

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
      Bagaimana cara mengubah rumah Anda menjadi sebuah lingkungan yang lebih positif bagi seluruh keluarga? Ada banyak cara, tetapi yang paling penting adalah dengan memutuskan bahwa orang dewasa bertanggung jawab dalam menata suasana hati keluarga. Berikut ini adalah sejumlah cara untuk melalukannya :


  • Gembira menyaksikan setiap anggota keluarga ketika dia memasuki ruangan.

  • Sesibuk apapun, sebanyak mungkin berada dalam rumah seperti kata seorang anak “ayah dan ibu selalu ada untuk ku”

  • Bergembiralah melihat siapapun yang mendekat. Berikan pelukan, ucapkan salam, dan tunjukkan senyuman lebar untuk mereka.

  • Tanyakan kabar anggota keluarga Anda dan bagaimana kelangsungan sejumlah proyek. Ingatlah kegiatan yang sedang mereka ikuti. Itu berarti bahwa Anda mendukung apa kegiatan positif yang mereka lakukan.

  • Menanyakan kepada anggota keluarga pengalaman mereka di sekolah, tempat kerja, atau mengenai kegiatan rekreasi.

  • Peringati hari ulang tahun dan hari besar lain bersama keluarga atau cendera mata kecil sebagai tanda perhatian.

  • Buatlah makan malam menjadi peristiwa besar. Bagikanlah tugas agar setiap orang terlibat dalam persiapannya.

  • Pergokilah sumbangan yang diberikan anak didalam rumah. Perhatikan setiap perbaikan yang mereka tunjukkan dalam tugas-tugas rumah. Mis. “Kamu sudah membersihkan rumah dengan baik pagi ini”. “Ibu menghargai bantuanmu”

  • Buatlah daftar tugas besar berwarna-warni yang menunjukkan jadwal tugas rumah tangga setiap orang.

  • Perbolehkan anak memberi tanda bagi setiap tugas yang sudah dikerjakan.

  • Jadwalkan wisata keluarga seperti berkunjung ke pantai, kebun binatang, museum dll.

  • Mintalah anak-anak merencanakan wisata keluarga untuk sebulan. Berikan batasan anggaran dan jarak yang boleh mereka ajukan.

  • Bantulah anak Anda mengumpulkan pakaian dan mainan bekas untuk anak-anak di panti asuhan.

  • Buatlah sebuah video bersejarah bersama keluarga sebagai arsip sejarah agar dikenang anak-anak nanti.

  • Mendengarkan jawaban, mendengarkan apa yang tengah dikatakan, mengomentari jawaban.

  • Mengenali kekasaran anak, memilih konsekuensi sesuai dengan perbuatan anak, lakukan konsekuensi itu tanpa tawa-tawar dan segeralah menghindar dari pertengkaran dengan anak ketika anak protes saat Anda memberlakukan konsekuensi pada anak dengan cara menyibukkan diri dengan kegiatan lain seperti membaca buku, menonton televisi dll.


Semuanya diatas demi mewujudkan zona aman di dalam rumah yang terbebas dari sikap ketidaksantuan / kekasaran.

Sampai disini dulu yaah selamaat berjuaannng dalam mendidik anak-anak Anda.. TYM

Sabtu, 27 September 2014

SIKAP KETIDAKSOPANAN ANAK


SIKAP KETIDAKSOPANAN ANAK

            Penyebab anak bersikap kasar, tidak sopan, adalah sesuatu yang alamiah: anak tersebut tersebut tengah mencari cara untuk “dianggap”, untuk menunjukkan dirinya berarti. Dan ia akan kerap mencoba untuk mendapatkan posisi di rumah melalui tingkah laku mencari perhatian dan kekuasaan.
            Penyebab lainya ialah karena orangtua terkadang mencontohkan ketidaksopanan di hadapan anak-anak dengan berbicara kasar kepada suami/istri, keluarga, atau teman, atau menggunakan pernyataan-pernyataan yang brutal dan sarkasme dalam upaya mengendalikan perilaku anak-anak mereka.
            Penyumbang lain bagi wabah sikap kasar ini adalah media massa, televisi, film, permainan video, dan music pop. Orangtua harus memahami bahwa media popular tidak hanya mendorong ketidaksopanan, tetapi juga menghadiahinya dengan tawa karakter lain dan naiknya pamor sang aktor. Kendati barangkali dibenarkan oleh karakter dewasa jahat, pesan pertunjukan ini adalah bahwa sikap kasar membuat seorang anak mendapat banyak perhatian.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
MENGENALI KEKASARAN
            Mengenal kekasaran sebagai suatu bentuk komunikasi yang tidak Anda sukai. Yang paling sulit dari langkah ini adalah menerima penilaian Anda terhadap komunikasi sang anak. Bisa jadi Anda merasa gusar dengan kekasaran anak Anda, bahkan merasa terluka sampai tidak dapat berkata-kata, lantas merasa bersalah telah berperasaan buruk ketika anak Anda mengatakan bahwa ketidaksopanannya sama sekali tidak dimaksudkan untuk melukai siapa pun.  “Aku nggak bermaksud begitu, kok,” mungkin saja anak berkata demikian dengan raut muka tak berdosa. “Ibu terlalu berlebihan. Deh” sebagai orangtua yang bijak harus mengakhiri perasaan bersalah anak dengan memeluk sang anak dan meminta maaf atas sikap yang berlebihan itu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Yang terpenting apakah pernyataan anak melukai Anda, mempermalukan Anda, mengganggu Anda, atau membuat Anda merasa tak berdaya itulah sikap membangkang.
MEMILIH KONSEKUENSI
            Langkah kedua adalah memilih konsekuensi yang tepat untuk perilaku tersebut. Anda sebaiknya melakukan hal ini sebelumnya atau sebelum insiden terjadi. Contoh kasus  Santi (12 thn) Ibu Santi sedang sedang berbicara dengan temannya. Santi berkata ”Aku mau ke rumah Fani”  Dia baru saja akan berbalik ketika teman Ibu Santi, berkata “Hai Santi” Santi mengabaikan sapaan teman Ibunya dan berkata kepada Ibunya, “…aku di sana sampai makan malam.” Ibunya, sedikit malu akan perilaku anak perempuannya, berkata, “Jangan sampai malam” Santi hanya mengguman, “Masa bodoh,” dan keluar membanting pintu”. Konsekuensi yang tepat adalah larangan untuk pergi ke rumah temannya. Setiap perilaku yang kasar hendaknya diartikan anak itu tidak boleh melakukan, mendapatkan apa yang diinginkannya, atau yang telah direncanakannya seperti pegi ke tempat berlatih sepak bola atau menari. Konsekuensi ini dilakukan saat Anda telah mengetahui sikap ketidaksopanaan anak yaitu Santi mengabaikan sapaan ibu temannya ditindak-lanjuti dengan konsekuensi logis tadi.
MEMBERLAKUKAN KONSEKUENSI
            Supaya efektif, konsekuensi terhadap sikap hendaknya segera dan logis. Setelah memilih konsekuensi paling logis, orangtua harus memberlakukan konsekuensi dengan segera, tanpa member kesempatan lain bagi sang pelaku, tak peduli bagaimana kerasnya ia memohon dan berjanji untuk berubah.
Poin-poin penting yang perlu Anda ingat dalam menanggapi ketidaksopanan anak dan bersiap-siaplah memberlakukan konsekuensi : Pertama, bicarakan hanya perasaan dan pikiran Anda, bukan tentang perbuatan atau perkataan salah si anak.mis : “Menurut Ibu, omongan seperti itu tidak pantas, dan membuat Ibu merasa tidak enak.” Karena itu Ibu putuskan kamu untuk tidak membawamu ke rumah Susan. Kedua, gunakan nada dan kata-kata yang sopan bukan kata2 yang mendendam, katakan “Menurut Ibu, kata-kata itu menghina”. Ketiga, kaitkan konsekuensi dengan perbuatan atau perkataan yang dilontarkan. Misalnya “Karena kamu menyebut Ibu bodoh waktu Ibu minta kamu memungut mainanmu. Ibu akan menyingkirkan mainan ini untuk sementara waktu. Keempat, jangan memberikan si anak memohon untuk kesempatan lain, teruskan konsekuensi Anda. Kelima,  Gunakanlah perasaan Anda sebagai alas an. Katakanlah ,”Ibu merasa sedih” ; “Ayah merasa tidak enak” untuk memberlakukan konsekuensi.
MELEPASKAN DIRI DARI PERTENGKARAN
            Langkah ke-4 adalah bahwa orangtua, dengan melepaskan diri dari pertarungan, menunjukkan tidak lagi berminat menanggapi tindakan protes. Hasilnya, anak memahami bahwa perilaku ini tidak akan membuat dia mendapatkan perhatian atau keinginannya, kekuasaan dan pembalasan. Cara melepaskan diri dari pertengkaran adalah jangan beragumen atau berdiskusi, untuk menghentikan permohonan dan protes si anak, menyibukkan diri dengan hal lain, jangan memperlihatkan ekpresi wajah Anda, nada atau suara setelah Anda memberikan konsekuensi pada anak. Anak segera akan menghentikan perilaku tersebut karena tidak lagi mendapatkan tanggapan perhatian-negatif yang ia inginkan dari Anda yaitu membuat Anda terluka atau marah.

Sampai disini dulu yaah selamaat berjuaannng dalam mendidik anak-anak Anda.. TYM

Selasa, 23 September 2014

SIKAP PALING TAHU SEGALANYA



SIKAP PALING TAHU SEGALAHNYA

     Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak-anak usia 1-3 tahun. Usia tersebut merupakan suatu masa ketika anak merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih banyak dimiliki oleh para orangtua. Contoh ungkapan yang sering dilontarkan oleh para orangtua, “Ah….”Kamu ini masih bau kencu tahu apa soal hidup.” Atau “Kamu tau gak, Papa dan Mama sudah makan asam garamnya kehidupan alias lebih berpengalaman dari pada kamu, jadi kamu gak perlu nasihatin Papa-Mama!”
    Jika kita memiliki kebiasaan semacam ini; maka kita telah membuat proses komunikasi dengan anak-anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang ditangkap anak malah semacam kesombongan yang luar biasa. Tentu saja tak seorang pun mau mendengarkan nasihat orang yang sombong.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
Usia bukanlah Soal Ukuran
            Sering kali usia orangtua dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini mungkin saja terjadi, ketika informasi baik melalui buku atau Internet sulit diperoleh oleh anak. Namun untuk saat ini, kondisi tersebut sudah tidak berlaku lagi. Siapa  yang lebih banyak mendapatkan informasi dan banyak mengikuti aktivitas/kegiatan baik yang bersifar bisnis/social, local/internasional, dialah yang lebih banyak tahu dan berpengalaman.
Jadilah Pendengar yang Baik
            Dengarkanlah setiap masukan atau informasi yang dating dari anak kita, tanpa merasa lebih rendah. Semua orang bisa benar dan semua orang juga bisa salah. Bila kita kurang setuju dengan isinya, dukunglah idenya terlebih dahulu, kemudian ceritakan pengalaman kita yang berkaitan dengan ide tadi. Misalnya, “ya, Papa/Mama setuju dengan apa yang kamu sampaikan. Bagus sekali. Eh, tapi tau gak dulu Papa/Mama punya pengalaman yang agak sedikit berbeda lho…begini ceritanya..” barulah sampaikanlah pandangan Anda melalui sebuah cerita pengalaman baik pengalaman nyata atau pengalaman yang kita buat sebagai ilustrasi.

Sampai disini dulu yaah selamaat berjuaannng dalam mendidik anak-anak Anda.. TYM