Sabtu, 11 Oktober 2014

TIDAK ADIL MEMPERLAKUKAN ANAK SECARA SAMA


TIDAK ADIL MEMPERLAKUKAN ANAK SECARA SAMA

Sebagian orangtua mengeluh karena merasa sudah berusaha sebijaksana mungkin memperlakukan anaknya secara adil, misalnya secara sama rata memberikan waktu, membagi rasa cinta, termasuk juga memberikan barang-barang yang sama persis.
Tanpa disadari inilah letak masalahnya, karena memperlakukan anak secara sama justru tidak adil. Orangtua menjadi bingung dan bertanya: jadi apa yang seharusnya kami lakukan agar anak-anak merasa diperlakukan adil?
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
ORANGTUA MEMAHAMI APA YANG DIBUTUHKAN ANAK.
Jika anak merasa kebutuhannya terpenuhi, ia akan merasa puas. Misalnya, daripada memberikan jumlah waktu yang sama bagi setiap anak, berikan waktu menurut kebutuhan masing-masing anak. orangtua bisa menjelaskan hal ini kepada anak. contoh “Ibu tahu sekarang ini ibu menghabiskan banyak waktu untuk membantu kakakmu menyelesaikan tugasnya membuat karangan karena tugasnya sangat penting baginya. Setelah selesai, Ibu ingin mendengar apa yang penting buatmu.”
Cara lain : daripada memberikan segala sesuatu dalam jumlah sama, berikan sesuai kebutuhan masing-masing anak. Contoh : Lina marah karena ibunya memberinya dua potong kue, sedangkan Andy anak yang lebih besar, mendapat tiga potong kue. Daripada memberikan sepotong kue lagi kepada Lina supaya jumlahnya sama, kita dapat mengatakan, “Lina, kalau kamu masih lapar, kamu bisa mengambil kue sesuai dengan kau butuhkan.”
Begitu juga saat memberi barang kebutuhan anak, jika anak A membutuhkan sepatu, belikan ia sepatu, dan menjelaskan kepada anak B bahwa A dibelikan sepatu karena sepatu lamanya sudah kekecilan. Begitu juga bila membelikan anak B pakaian, karena pada saat itu ia membutuhkannya. Anak belajar untuk tidak perlu merasa khawatir akan diajak atau tidak diajak ke toko karena ia tahu orangtuanya memerhatikan dengan seksama apa yang  ia butuhkan. Cara ini juga mencegah  timbulnya sifat komsumerisme pada anak, yaitu tindakan menghamburkan uang untuk barang yang tidak dibutuhkan, yang dibeli hanya atas dasar harus sama dengan kakak atau adik.
Kerap kali anak suka bertanya “Bu, apakah ibu sayang aku sama seperti  ibu sayang kakak/adikku?”, dan dengan spontan jawaban yang kita berikan, “Tentu! Ibu tidak beda-bedakan anak, dan Ibu sayang kamu seperti kakak/adikmu.” Namun , jawaban ini tidak memuaskan hati anak karena ia merasa tidak dicintai secara unik. Seorang ibu menemukan cara yang membuat  bola mata anaknya berbinar saat anaknya, Tono, menanyakan apakah Ibunya mencintai dia sama halnya seperti kakaknya. Ini respon ibu tersebut, “Tono, hanya ada satu Tono di dunia ini yang hidungnya seperti kamu, sinar matanya sepertimu, senyumnya seperti kamu. Hanya satu Tono yang sekarang duduk dekat Ibu yang paling Ibu cintai. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya di hati Ibu.”
Intinya agar dapat berlaku adil terhadap setiap anak, orangtua perlu memahami kebutuhan anak, dan salah satu caranya adalah mempelajari tahap perkembangan anak.

Sources by  : Berbagai Ilmu Psikologi Anak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar