TIDAK ADIL MEMPERLAKUKAN ANAK SECARA SAMA
Sebagian orangtua mengeluh karena merasa
sudah berusaha sebijaksana mungkin memperlakukan anaknya secara adil, misalnya
secara sama rata memberikan waktu, membagi rasa cinta, termasuk juga memberikan
barang-barang yang sama persis.
Tanpa disadari inilah letak masalahnya,
karena memperlakukan anak secara sama justru tidak adil. Orangtua menjadi
bingung dan bertanya: jadi apa yang seharusnya kami lakukan agar anak-anak
merasa diperlakukan adil?
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
ORANGTUA
MEMAHAMI APA YANG DIBUTUHKAN ANAK.
Jika anak
merasa kebutuhannya terpenuhi, ia akan merasa puas. Misalnya, daripada
memberikan jumlah waktu yang sama bagi setiap anak, berikan waktu menurut
kebutuhan masing-masing anak. orangtua bisa menjelaskan hal ini kepada anak.
contoh “Ibu tahu sekarang ini ibu menghabiskan banyak waktu untuk membantu
kakakmu menyelesaikan tugasnya membuat karangan karena tugasnya sangat penting
baginya. Setelah selesai, Ibu ingin mendengar apa yang penting buatmu.”
Cara
lain : daripada memberikan segala sesuatu dalam jumlah sama, berikan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Contoh : Lina marah karena ibunya memberinya dua potong kue, sedangkan Andy
anak yang lebih besar, mendapat tiga potong kue. Daripada memberikan sepotong
kue lagi kepada Lina supaya jumlahnya sama, kita dapat mengatakan, “Lina, kalau
kamu masih lapar, kamu bisa mengambil kue sesuai dengan kau butuhkan.”
Begitu
juga saat memberi barang kebutuhan anak, jika anak A membutuhkan sepatu,
belikan ia sepatu, dan menjelaskan kepada anak B bahwa A dibelikan sepatu
karena sepatu lamanya sudah kekecilan. Begitu juga bila membelikan anak B
pakaian, karena pada saat itu ia membutuhkannya. Anak belajar untuk tidak perlu merasa khawatir akan diajak atau tidak
diajak ke toko karena ia tahu orangtuanya memerhatikan dengan seksama apa
yang ia butuhkan. Cara ini juga
mencegah timbulnya sifat komsumerisme pada anak, yaitu tindakan
menghamburkan uang untuk barang yang tidak dibutuhkan, yang dibeli hanya atas
dasar harus sama dengan kakak atau adik.
Kerap
kali anak suka bertanya “Bu, apakah ibu sayang aku sama seperti ibu sayang kakak/adikku?”, dan dengan spontan
jawaban yang kita berikan, “Tentu! Ibu tidak beda-bedakan anak, dan Ibu sayang
kamu seperti kakak/adikmu.” Namun , jawaban ini tidak memuaskan hati anak
karena ia merasa tidak dicintai secara unik. Seorang ibu menemukan cara yang
membuat bola mata anaknya berbinar saat
anaknya, Tono, menanyakan apakah Ibunya mencintai dia sama halnya seperti
kakaknya. Ini respon ibu tersebut, “Tono, hanya ada satu Tono di dunia ini yang
hidungnya seperti kamu, sinar matanya sepertimu, senyumnya seperti kamu. Hanya
satu Tono yang sekarang duduk dekat Ibu yang paling Ibu cintai. Tidak ada
seorang pun yang bisa menggantikannya di hati Ibu.”
Intinya agar dapat berlaku adil
terhadap setiap anak, orangtua perlu memahami kebutuhan anak, dan salah satu
caranya adalah mempelajari tahap perkembangan anak.
Sources by : Berbagai Ilmu Psikologi Anak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar