MEMPERLIHATKAN CONTOH BERANI
MENGAKUI KESALAHAN
Sebagai
orangtua, kita mengusahakan yang terbaik dalam memberikan contoh kepada anak,
namun kita adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Terkadang, tanpa
sengaja, kita melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyakiti anaka. Pada saat
hal ini terjadi, beranilah mengaku kepada anak bahwa kita telah berbuat
kesalahan dan MEMINTA MAAF. Anak bisa melihat ibu-bapaknya sugguh bersikap
jujur dan tulus serta apa adanya terhadap mereka. Mereka akan menghargai
kejujuran tersebut, akan menghargai kerendahan hati orangtuanya. Sebaliknya,
bila kita tidak meminta maaf, anak akan merasa sakit hati kian kuat yang
mengarah pada rasa marah serta menarik diri dari hubungan dengan orangtuanya.
Di dalam batinnya ia akan mencap orangtuanya sebagai manusia munafik serta
tidak jujur, kendati ia tak mampu mengatakannya secara terbuka.
Beberapa orangtua beranggapan
meminta maaf sama saja dengan menunjukkan kelemahan dan merendahkan derajatnya
sendiri. Orangtua yang lain merasa meminta maaf akan mengurangi wibawa mereka
sebagai orangtua yang memegang kekuasaan. Sikap-sikap demikian itu kurang
tepat. Orangtua yang berjiwa besar untuk mengakui kesalahannya adalah guru yang
baik dalam mengajarkan kepada anak bahwa integritas pribadi lebih penting
daripada selalu merasa diri paling benar. Maka sikap gengsi, menjaga wibawa yang menghasilkan
kebingungan pada anak, yang mengajarkan ketidakjujuran, ketidakbenaran pada
anak, ketidaksesuaian antara didikan dan perbuatan pada anak, hanya akan
merusak suara hati anak, mengaburkan nurani moral mereka.
Bisa jadi kita tidak mau minta maaf karena
kita merasa malu mengakui kita telah berbuat kesalahan. Hal ini berlaku umum
dalam masyarakat tempat kita mengalami bahwa melakukan kesalahan adalah hal
yang memalukan.
APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN???
Kesalahan
adalah kesempatan baik untuk belajar
Dengan
demikian akan lebih mudah bagi kita untuk menerima tanggung jawab atas
kekeliruan yang telah kita perbuat. Ada tiga cara yang baik untuk menunjukkan
kita memiliki jiwa besar pada saat membuat kesalahan.
1. Penyadaran
: “Wow! Saya berbuat kekeliruan.”
2. Penyesalan
: “Maaf, saya salah; sekali lagi, saya minta maaf.”
3. Pemecahan
Masalah : “Ayo, kita mencari jalan keluar bersama-sama”
Tulus
Mengakui kesalahan dan mengakui ketidaktahuan
atau ketidakmampuan secara tulus di depan
anak justru akan membangkitkan semangat kejujuran dan ketulusan dalam diri
anak. sikap jujur kita akan menjadi pintu bagi anak untuk menjadi jujur dan
memungkinkan ia mengakui kekurangannya, kesalahanya, keluarga, sedangkan
kepura-puraan, kemuninafikan, kecenderungan memakai topeng dapat disingkirkan
sejak masa kecil anak.
Hidup
sehari-hari ditandai banyak kekeliruan, kekhilafan. Sikap positif yang dapat
membantu kita agar hal-hal ini tidak menjadi bom yang dapat meledak serta
merusak bangunan hidup rukun adalah dengan mengembangkan sikap berani mengakui kesalahan,
memohon maaf secara terbuka, dan mencari jalan keluar bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar