Pengalaman yang saya dapat selama beberapa tahun ini, ketika saya meneropong kisah seorang anak muda (Privasi), duduk di bangku SMA, Kls 3 IPA (Kelas Ujian). Dia anak yang pintar, pandai bergaul, baik, optimis dll. Segala sesuatu dia korbankan baik itu waktu, tenaga, pikiran, untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional. Akan tetapi, jauh dari harapan, dia pun salah satu dari empat siswa di jurusan IPA yang di nyatakan Tidak Lulus. Lantas dia tidak mau menerima kegagalan itu, kesal, marah dalam batinnya, tenggelam dalam kesedihan. Akhirnya sikap dia pun berubah drastis (dulunya ramah, sekarang menjadi garang, mudah emosi, agresif).
Kita bisa mengambil hikmah dari kisah di atas (Fakta), ada satu hal penting yang harus di perhatikan orang tua yang menginginkan anaknya ketika beranjak dewasa, sudah berkerja, berumah tangga (dapat belajar dari setiap masalah, tetap optimis, t’rus bekerja), yaitu mengajari anak anda untuk menerima Kegagalan.
Mengapa penting ? karna anak usia 4-8th (egosentris tinggi) : semua barang-barang ku, papaku, mamaku). Anak usia ini seringakali maunya menang sendiri, tidak mau kalah, misalnya bersaing dengan kakanya. Kalau kalahpun dia pun akan menangis, merengek, memberontak. Bahkan sering melakukan kecurangan dalam permainan (misalkan mendorong temannya, memukul, menendang hanya untuk mau menang).
Kenapa bisa terjadi demikian ? karena anak sedang melewati masa perkembangan psiko sosial yaitu masa Kerajinan Vs Rasa Rendah Diri (anak mulai mengembangkan bakat untuk mendapat pujian/pengakuan dari orang lain).
Mau Menang Sendiri
Semua anak yang akan melewati tahap egosentris (berpusat pada dirinya sendiri) baru mulai belajar bersosialisasi. Demikian juga, dalam hal bertanding atau bermain maunya menang, bahkan kadang melalukan kecurangan dalam bermain, yang penting menang. Menangis atau marah karna kalah sering terjadi.
Apa yang sebaiknya dilakukan ?
Kita bisa mengajarkannya sambil bermain dengan terlibat dalam permainan mereka. Ada sejumlah anak pernah tidak dapat piala karna kalah dalam lomba dan menangis, hingga sebagian orang tua membelikan piala supaya panitia memberikan kepada anak kami agar dia tidak menangis dan stress. (Hal ini keliru). Secara tidak sengaja orangtua mengajarkan anak tidak mau menerima kegagalan. Ini tidak akan berhasil jika anak sudah dewasa dalam mengarungi hidup. Beri dia kata-kata encouragement / penguatan. Jangan dimarahi karna gagal, tetapi katakan, “Papa/Mama bangga karna kamu sudah berani mencoba.” Anak harus dipersiapkan bukan hanya untuk menang, tetapi juga untuk menerima kegagalan karna itulah realita hidup ini.
Ucapkan syukur dan beri dorongan bahwa yang penting dalam hidup ini adalah jujur, ulet, dan tekun, bukan melulu menang dan juara. Apa artinya dapat nilai 100 jika hasil menyontek dan tidak jujur ?
Jangan meremehkan/meledek anak kalau ia bermain kalah. Itu membuat dia stres dan berusaha menang meskipun curang. Jangan komplain dan marah kepada panatia, karna anak kita kalah membuat dia semakin tidak bisa menerima kekalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar