
Salam Kid's Parents
Orang yang sudah dewasa, pasti mempunyai banyak pengalaman, insipirasi, kesan baik atau buruk, pengalaman dalam bergaul dll. Hal ini membuat sejumlah orang percaya diri, mampu dan bisa mengatasi masalah apapun tanpa pertimbangkan baik atau buruknya. Orang tua yang merasa dirinya paling benar (tahu banyak hal), menjaga harga dirinya, tidak mau disalahkan atau tidak mau di kritik oleh anak-anaknya. Misalkan Anak menegur “Papa, antarin aku hari ini saja ke sekolah; biasanya kan mama antar – jemput aku”. Orang tua (paling benar) “Nggak bisa, papa lagi sibuk kerja (marah-marah), papa cari duit, kamu hanya sekolah saja, dasar anak manja”.
Contoh di atas, mempunyai pengaruh terhadap perkembangan emosional anak. Perhatikanlah dibawah ini :
Bayi (0-1 th) : Merusakan Kelekatan
Bayi pun bisa mengkritik, yang ditunjukkan lewat perilakunya, semisal menolak ASI atau susu formula atau makanan yangg diberikan jika memang dirasa tak enak olehnya. Bila orang tua tak peka, si kecil akan merasa tak dipedulikan.
Batita (2-3 th): Merasa Tak Di Percaya
Bila kritikan anak ditanggapi secara negatif atau malah sama sekali tak direspons, anak merasa tak dipercaya. Ia pun sulit mengembangkan rasa percayanya pada orang lain. Dampak lainnya, kemarahan orang tua dapat menjadi materi yang akan ditiru sewaktu-waktu oleh anak.
Pra Sekolah (4-5 th) : Ragu dan Malu Berpendapat
Anak usia ini (mandiri). Jika pendapatnya tak ditanggapi atau ditanggapi secara negatif. Ia merasa pendapatnya itu tidak benar. Ia akan selalu ragu dan malu mengungkapkan pendapatnya.
Usia 6-8 th : Sudut Pandangnya Sempit
Anak sedang rajin berkarya. Jika kritiknya tidak ditanggapi atau sama sekali tak diberi kesempatan mengeluarkan kritikan, maka ia pun tak menanggapi kritik orang lain terhadap karyanya.
Usia 9-12 th : Kecewa Pada Orang Tua
Siapapun yang mengkritiknya, akan dicuekin. Disisi lain anak kecewa karna orang tua terlalu otoriter, komunikasi anak dengan orangtua terhambat karna ada kemarahan dan kekecewaan dalam diri anak.
Kamu Tahu Apa ?Umumnya masalah diatas karna ego orang tua yang merasa dirinya paling benar dan tak mau disalahkan. Bisa juga karna Harga Diri, tidak mau direndahkan oleh anak, sudah berpengalaman, masalah status sosial dll.
Apa Yang Sebaiknya Di Lakukan ?
1 Orangtua harus juga mau dikritik oleh anak. Mau dikritik merupakan ciri orang yang rendah hati dan mau maju. Belajarlah menerima kritikan dari anak dengan lapang dada. Toh, demi kebaikan bersama.
2 Tanyakan alasan mengapa anak mengkritik. Bila ia tak bisa memberikan alasan yang tepat, kita perlu mengajarkan bagaimana caranya mengkritik dengan benar.
3 Bila kita punya alasan kuat untuk tidak menerima kritikan anak, maka kita harus memberitahukannya. Dengan begitu anak akan belajar memahami sudut pandang orang tua. Contoh “Minta maaf na, papa lagi buru-buru ke kantornya, papa janji (harus ditepati ya), lain kali papa akan antarin kamu sekolah..oke”. tanggapin kritik anak dengan positif.
4 Dalam mengahadapi kritikan bayi, kita harus lebih waspada dan melihat dampaknya terhadap kesehatan bayi. Contoh, ketika bayi mengalami diare, muntah-muntah dan gatal. Jangan-jangan ini merupakan peringatan untuk orang tua untuk dikritik.
makasih yah yang udah baca blogku
BalasHapus