Rabu, 30 April 2014

PEDULI USIA EMAS ANAK ANDA EPS. PASCA KELAHIRAN

Salam orang tua peduli karakter anak,
Setelah kita mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian / mental anak sejak dalam kandungan, kita akan masuk pada pada perkembangan anak pasca-kelahiran,
Perlu orangtua ketahui bahwa betapa pentingya pengasuhan yang baik saat anak atau bayi anda telah lahir karna akan berbeda kondisinya dibandingkan dengan anak atau bayi yang diasuh dengan tidak baik.

Hal-hal yang berhubungan saat pasca-kelahiran anak atau bayi anda di antaranya :

a. Kondisi Umum
Pasca kelahiran menuntut bayi untuk mandiri. Karena semula pasokan oksigen, sari-sari makanan, sirkulasi darah, proses pembuangan serta pengaturan temperature masih tergantung pada ibu. Ketika dilahirkan, si bayi harus berusaha melakukan berbagai hal tersebut dengan upayanya sendiri. Oleh karena itu, bayi harus mengembangkan diri.
Saat setelah kelahiran, panca indera bayi berkembang sesuai tingkatan masing-masing. Penglihatan pada bayi ditandai oleh adanya gerakan mata yang menuju cahaya yang terang, geraka mata sesuai arah cahaya, serta kemampuan mengikuti gerakan objek.
Pada jam-jam pertama setelah kelahiran, kemampuan pendengaran bayi dapat diukur melalui kecepatan detak jantung ketika suara diperdengarkan.
Bayi juga mampu membedakan bau. Hal itu dapat dilihat melalui gerakan pernafasan. Biasanya untuk bau yang menyengat, penafasan menjadi lebih cepat.
Kemampuan membedakan rasa bayi berkembang diketahui bahwa ketika bibir bayi ditetesi air gula maka ia akan menjilat bibir sedangkan berbeda respons bayi yang ditetesi air putih.


b. Perkembangan Fisik
Bayi cenderung belajar dengan melakukannya sendiri. Misalnya, belajar mengenal suara melalui aktivitas memukul-mukul alat permainan, juga belajar meraih dan menggenggam dengan cara menjatuhkan permaianan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik meliputi unsure bawaan yang diturunkan melalui gen orang tua, serta makanan yang dikomsumsi (sangatlah diperhatikan).
Perbandingan Kondisi Fisik antara Anak yang memperoleh perawatan yang baik dan anak yang tidak memperoleh perawatan Pasca-Kelahiran.

Perawatan yang baik :
- Secara umum menunjukkan vitalitas, kesigapan.
- Mata yang bercahaya, jernih, murah senyum, kelelahan mudah hilang,tidak ada lingkaran hitam di sekitar mata, memiliki daya tahan
- Penuh energy, semangat.
- Memiliki rambut yang bersinar dan lembut
- Selera makan yang bagus, mencoba makanan yang baru.
- Bentuk tubuh bagus; berdiri tegap, otot2 berkembang dengan baik
- Kulit halus
- Menikmati lingkungan, keingitahuan; responsif, semangat belajar
- Berat badan dan tinggi tubuh sesuai dengan usia

Perawatan yang kurang baik :
- Tegang, bodoh, tidak bergairah, apatis
- Mudah menangis, kelihatan sedih, sedikit senyumannya
- Kurangnya selera makan, ketidaksukaan pada makanan tertentu
- Kulit kering, tubuh kurang berlemak
- Terlalu peka, cemas, lamban, pasif, kurang mampu menyesuaikan diri dengan stimulus.
- Minat terbatas, kurangnya konsentrasi.

Jadi, pentingnya perawatan yang baik pasca kelahiran anak atau bayi anda untuk pertumbuhan fisik maupun mental anak atau bayi anda dengan baik.

Selasa, 29 April 2014

PEDULI USIA EMAS ANAK ANDA

CINTAI USIA EMAS ANAK (0-6TH)

Usia dini pada anak kadang-kadang disebut sebagai usia emas atau golden age. Masa-masa tersebut merupakan masa kritis dimana seorang anak membutuhkan rangsangan-rangsangan yang tepat untuk mencapai kematangan yang sempurna. Arti kritis adalah sangat mempengaruhi keberhasilan pada masa berikutnya. Apabila masa kritis ini anak tidak memperoleh rangsangan yang tepat dalam bentuk latihan dan proses belajar maka anak akan mengalami kesulitan pada masa-masa perkembangan berikutnya.
Contoh : anak usia dini yang diisolasikan oleh orangtua dengan mengurung dalam rumah karna takut bermain keluar kemana-kemana. Akibatnya anak kekurangan kosa kata; contoh lain perkembangan sosial anak usia (2-3th) / masa autonomy vs doubt : make a choices, bangga akan hal dikerjakan, kalau saat anak sedang berusaha membagi barang-barang mana yang sama ketika anak berhasil dan tidak ada respon berupa pujian maka akan timbul keraguan pada diri anak.
Jadi tahun-tahun awal perkembangan dapat dikatakan sebagai dasar pembentuk kepribadian seseorang.

Lebih lanjut, pada episode ini, saya hanya menyajikan faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan Pra-Kelahiran. Mengapa hal ini penting untuk orang tua ketahui bahwa pembentukan kepribadian anak itu bukan saat anak lahir tapi saat anak dalam kandungan juga perlu diperhatikan.

1 Perkembangan emosional (pra-kelahiran) : Karakter marah / emosional anak 80 % terbentuk saat anak masih dalam kandungan dan 20 % dari lingkungan. Itu tergantung saat ibu merespond setiap masalah / kejadian dengan tenang, sabar, dan mampu mengontrol diri dengan baik.
2 Perkembangan fisik / kesehatan (pra-kelahiran) : Ibu yang mengkomsumsi alkohol maupun rokok yang berlebihan akan menyebabkan kecacatan wajah, tungkai dan lengan, atau wajah dan jantung rusak, atau keterbelakangan mental. Penelitian menunjukkan kasus diatas akan menyebabkan anak kesulitan untuk memusatkan perhatian dan kurang sigap. Tidak kalah penting, faktor asupan gizi sangat penting bagi janin.
3 Perkembangan sosial (pra-kelahiran) : tidak jauh berbeda dengan emosional, hanya hindarilah rasa cemas atau ketegangan yang berlebihan. hal itu mempengaruhi janin. Karna secara medis, telah terbukti bahwa akan terjadinya peningkatan pernapasan dan sekresi kelenjar yang berdampak pada terhambatnya aliran darah ke kandungan yang mengakibatkan janin kekurangan udara.

Kesimpulannya, perhatian kepada anak bukan saat lahir tapi sejak anak masih dalam kandungan. Penekaan saya pada faktor kepribadian/mental pada perkembangan pra-kelahiran anak. Semuanya mengarah pada perkembangan pasca-kelahiran anak yaitu melewati masa kritis atau masa Golden Age. Bersambung………

Source by : Psikologi Anak Usia Dini (Wiwien Dinar Pratisti)

Minggu, 27 April 2014

PENTINGNYA DISPILIN BAGI ANAK

PENTINGNYA DISIPLIN U/ANAK
Salam OrangTua Peduli Karakter Anak
Beberapa hal penting yang saya kaji secara kritis mengenai penting penerapan displin kepada anak sejak dini :
1. Disiplin (bahasa Latin disciplina) adalah mengajarkan secara positif dan konstruktif. Disiplin bukan dilakukan secara negatif dan otoriter. Disiplin juga tidak selalu menghukum dan mengekang.
2. Memanjakan anak memang menyenangkan, tetapi apabila orangtua selalu mengala terhadap apa yang mereka inginkan, akhirnya juga merugikan mereka dan anak tidak bisa mandiri.
3. Mulailah belajar berkata “tidak” dari saat anak kita mulai
bersikap keterlaluan.
4. Disiplin adalah memperkenalkan kepada anak batasan-batasan yang pantas dan tidak sehubungan dengan hak mereka dan hak dan kewajiban orangtua.
5. Berikan tanda tegas untuk katakan “tidak”. Misalnya dengan nada suara yang tegas atau berbisik, mengerutkan wajah dan memperlihatkan wajah marah, atau memalingkan wajah dan tidak memberi perhatian.
6. ada kalanya orangtua juga bisa berkata “ya”. Untuk memberi-kan pujian atas perilaku baik anak. Jangan salah berkata “ya” pada hal-hal berbahaya seperti api, listrik,, jalan raya, atau berbicara dengan orang yang tidak dikenal.
7. Bermurah hati. Sebaiknya berikan lebih banyak waktu, perhatian, pengawasan, dan perlindungan daripada membeli-kan anak makanan dan mainan.
8. Teknik manipulasi menangis agar kebutuhannya diperhatikan sudah pasti dijalankan anak terkecil sekalipun. Orangtua perlu berhati-hati untuk tidak lebih banyak menghabiskan waktu untuk melayani anak-anak yang belum bijak.
9. Kenakalan anak bisa dilihat berdasarkan kualitas pemahaman terhadap yang benar dan salah.
10. Perilaku mana tuntutan keinginan anak yang wajar atau kurang wajar.
11. Renungkan perilku buruk anak. Apakah perilaku itu sengaja tidak sengaja? Pantas atau tidak pantas? perilaku menirukah?
12. Orangtua yang saling sepakat memudahkan anak mengetahui apa yang diharapkan dirinya, sehingga anak lebih mudah patuh.
13. Peraturan yang ditetapkan orangtua sebaiknya mengacu pada peraturan yang ditetapkan disekolah dan masyarakat, sehingga anak tidak bingung mematuhinya.
14. Masa pembelajaran anak terhadap batas perilaku baik-buruk butuh waktu bertahun-tahun. Orangtua perlu konsisten dalam menerapkan standar dan memandu secara jelas juga tegas.
15. Disiplin dan ketegasan bisa menjadi salah satu bentuk kasih sayang dan perhatian.
16. Tujuan mendisplinkan anak adalah agar mereka memiliki kemampuan mengatur perilaku dirinya sendiri. Selain itu, anak bisa mengambil keputusan berdasarkan peraturan yang ditetapkan orang tuanya.
17. Dalam proses pendisiplinan, perlu juga membiarkan anak melakukan kesalahan agar ia bisa belajar dari kesalahan itu.
18. Ajari anak untuk menyukai juga menghormati dirinya sendiri dan orang lain. Pengawasan dan kontrol yang tegas yang terlalu lama membuat anak kurang percaya diri dan terlalu bergantung.

Metode Kajian : Menganilis serta mengkaji secara psikologis dan berdasarkan sumber Buku Pintar Prilaku Anak by Novita Tandry (Pakar Psikologi Bayi)


Sabtu, 26 April 2014

MAU MENANG SENDIRI

Pengalaman yang saya dapat selama beberapa tahun ini, ketika saya meneropong kisah seorang anak muda (Privasi), duduk di bangku SMA, Kls 3 IPA (Kelas Ujian). Dia anak yang pintar, pandai bergaul, baik, optimis dll. Segala sesuatu dia korbankan baik itu waktu, tenaga, pikiran, untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional. Akan tetapi, jauh dari harapan, dia pun salah satu dari empat siswa di jurusan IPA yang di nyatakan Tidak Lulus. Lantas dia tidak mau menerima kegagalan itu, kesal, marah dalam batinnya, tenggelam dalam kesedihan. Akhirnya sikap dia pun berubah drastis (dulunya ramah, sekarang menjadi garang, mudah emosi, agresif).
Kita bisa mengambil hikmah dari kisah di atas (Fakta), ada satu hal penting yang harus di perhatikan orang tua yang menginginkan anaknya ketika beranjak dewasa, sudah berkerja, berumah tangga (dapat belajar dari setiap masalah, tetap optimis, t’rus bekerja), yaitu mengajari anak anda untuk menerima Kegagalan.
Mengapa penting ? karna anak usia 4-8th (egosentris tinggi) : semua barang-barang ku, papaku, mamaku). Anak usia ini seringakali maunya menang sendiri, tidak mau kalah, misalnya bersaing dengan kakanya. Kalau kalahpun dia pun akan menangis, merengek, memberontak. Bahkan sering melakukan kecurangan dalam permainan (misalkan mendorong temannya, memukul, menendang hanya untuk mau menang).
Kenapa bisa terjadi demikian ? karena anak sedang melewati masa perkembangan psiko sosial yaitu masa Kerajinan Vs Rasa Rendah Diri (anak mulai mengembangkan bakat untuk mendapat pujian/pengakuan dari orang lain).
Mau Menang Sendiri
Semua anak yang akan melewati tahap egosentris (berpusat pada dirinya sendiri) baru mulai belajar bersosialisasi. Demikian juga, dalam hal bertanding atau bermain maunya menang, bahkan kadang melalukan kecurangan dalam bermain, yang penting menang. Menangis atau marah karna kalah sering terjadi.
Apa yang sebaiknya dilakukan ?
Kita bisa mengajarkannya sambil bermain dengan terlibat dalam permainan mereka. Ada sejumlah anak pernah tidak dapat piala karna kalah dalam lomba dan menangis, hingga sebagian orang tua membelikan piala supaya panitia memberikan kepada anak kami agar dia tidak menangis dan stress. (Hal ini keliru). Secara tidak sengaja orangtua mengajarkan anak tidak mau menerima kegagalan. Ini tidak akan berhasil jika anak sudah dewasa dalam mengarungi hidup. Beri dia kata-kata encouragement / penguatan. Jangan dimarahi karna gagal, tetapi katakan, “Papa/Mama bangga karna kamu sudah berani mencoba.” Anak harus dipersiapkan bukan hanya untuk menang, tetapi juga untuk menerima kegagalan karna itulah realita hidup ini.
Ucapkan syukur dan beri dorongan bahwa yang penting dalam hidup ini adalah jujur, ulet, dan tekun, bukan melulu menang dan juara. Apa artinya dapat nilai 100 jika hasil menyontek dan tidak jujur ?
Jangan meremehkan/meledek anak kalau ia bermain kalah. Itu membuat dia stres dan berusaha menang meskipun curang. Jangan komplain dan marah kepada panatia, karna anak kita kalah membuat dia semakin tidak bisa menerima kekalahan.

Kamis, 24 April 2014

Kamu masih kecil nak..belum tahu apa-apa


Salam Kid's Parents
Orang yang sudah dewasa, pasti mempunyai banyak pengalaman, insipirasi, kesan baik atau buruk, pengalaman dalam bergaul dll. Hal ini membuat sejumlah orang percaya diri, mampu dan bisa mengatasi masalah apapun tanpa pertimbangkan baik atau buruknya. Orang tua yang merasa dirinya paling benar (tahu banyak hal), menjaga harga dirinya, tidak mau disalahkan atau tidak mau di kritik oleh anak-anaknya. Misalkan Anak menegur “Papa, antarin aku hari ini saja ke sekolah; biasanya kan mama antar – jemput aku”. Orang tua (paling benar) “Nggak bisa, papa lagi sibuk kerja (marah-marah), papa cari duit, kamu hanya sekolah saja, dasar anak manja”.
Contoh di atas, mempunyai pengaruh terhadap perkembangan emosional anak. Perhatikanlah dibawah ini :
Bayi (0-1 th) : Merusakan Kelekatan
Bayi pun bisa mengkritik, yang ditunjukkan lewat perilakunya, semisal menolak ASI atau susu formula atau makanan yangg diberikan jika memang dirasa tak enak olehnya. Bila orang tua tak peka, si kecil akan merasa tak dipedulikan.
Batita (2-3 th): Merasa Tak Di Percaya
Bila kritikan anak ditanggapi secara negatif atau malah sama sekali tak direspons, anak merasa tak dipercaya. Ia pun sulit mengembangkan rasa percayanya pada orang lain. Dampak lainnya, kemarahan orang tua dapat menjadi materi yang akan ditiru sewaktu-waktu oleh anak.
Pra Sekolah (4-5 th) : Ragu dan Malu Berpendapat
Anak usia ini (mandiri). Jika pendapatnya tak ditanggapi atau ditanggapi secara negatif. Ia merasa pendapatnya itu tidak benar. Ia akan selalu ragu dan malu mengungkapkan pendapatnya.
Usia 6-8 th : Sudut Pandangnya Sempit
Anak sedang rajin berkarya. Jika kritiknya tidak ditanggapi atau sama sekali tak diberi kesempatan mengeluarkan kritikan, maka ia pun tak menanggapi kritik orang lain terhadap karyanya.
Usia 9-12 th : Kecewa Pada Orang Tua
Siapapun yang mengkritiknya, akan dicuekin. Disisi lain anak kecewa karna orang tua terlalu otoriter, komunikasi anak dengan orangtua terhambat karna ada kemarahan dan kekecewaan dalam diri anak.

Kamu Tahu Apa ?
Umumnya masalah diatas karna ego orang tua yang merasa dirinya paling benar dan tak mau disalahkan. Bisa juga karna Harga Diri, tidak mau direndahkan oleh anak, sudah berpengalaman, masalah status sosial dll.
Apa Yang Sebaiknya Di Lakukan ?
1 Orangtua harus juga mau dikritik oleh anak. Mau dikritik merupakan ciri orang yang rendah hati dan mau maju. Belajarlah menerima kritikan dari anak dengan lapang dada. Toh, demi kebaikan bersama.
2 Tanyakan alasan mengapa anak mengkritik. Bila ia tak bisa memberikan alasan yang tepat, kita perlu mengajarkan bagaimana caranya mengkritik dengan benar.
3 Bila kita punya alasan kuat untuk tidak menerima kritikan anak, maka kita harus memberitahukannya. Dengan begitu anak akan belajar memahami sudut pandang orang tua. Contoh “Minta maaf na, papa lagi buru-buru ke kantornya, papa janji (harus ditepati ya), lain kali papa akan antarin kamu sekolah..oke”. tanggapin kritik anak dengan positif.
4 Dalam mengahadapi kritikan bayi, kita harus lebih waspada dan melihat dampaknya terhadap kesehatan bayi. Contoh, ketika bayi mengalami diare, muntah-muntah dan gatal. Jangan-jangan ini merupakan peringatan untuk orang tua untuk dikritik.

Rabu, 23 April 2014

Anak Bergaul (Bolehkah???)

Lingkungan merupakan tempat kedua setelah keluarga tumbuh kembang anak, karna lingkungan menyediakan sejuta warna sebagai tempat bereksplorasi dengan alam, sosialisasi, pembentukan karakter dll. Lingkungan yang ramai, berbagai macam karakter dan latar belakang tiap orang, membuat sebagian orang berpikir bahwa lingkungan sangat ditakuti. Karna anggapan sebagian orangtua bahwa lingkungan itu, tidak baik..bahkan merusak moral anak. Lantas orangtua belum bisa membiarkan lingkungan menjadi tempat hunian anak untuk tumbuh dan berkembang. Orang tua takut anaknya terjerumus ke lingkungan yang buruk, atau tidak boleh bergaul dengan anak-anak yang nakal, nanti disakiti atau dipukulin teman. (Hal ini wajar)…No Problem Tapi, perlu diingat oleh orang tua, bahwa jikalau anak tidak diberi kesempatan untuk membangun relasi sosial dengan teman-teman sebayanya di lingkungannya. Ada sejumlah efek besar terhadap perkembangan anak. Usia 0-12 Bulan : Takut Orang Asing Si kecil menganggap lingkungannya tidak aman, sehingga ia takut dengan orang asig atau tidak mau bersentuhan dengan orang yang baru dikenalnya. Usia 1-2 Tahun : Perkembangan Tak Optimal Tanpa interaksi sosial, anak tidak bisa belajar kosakata baru dari teman-temannya, tak bisa meakukan permainan yang sangat baik dengan teman sebaya dan sulit berbagi. Usia 3-5 Tahun : Pribadi Pasif Ingin main sendiri dan enggan melakukan permainan yang bersifat kelompok; sulit berkomunikasi, kerja samanya kurang, lebih mengutamakan kepentingan individu. Usia 6-8 Tahun : Tak Bisa Bermain Dalam Tim Kalaupun terpaksa, ia susah untuk menunjukkan identitasnya, sulit berinteraksi. Usia 9-12 Tahun : Relasi Sosial Terbatas Anak bisa dijahui kelompoknya. Ia hanya mengenal teman-teman yang sangat dekat. Ia mengalami kesulitan saat mengatur kelompoknya. Idenya sering didiamkan, dikkubur dalam-dalam karna tak bisa diungkapkan. Di Larang Bergaul Tiga penyebab utama orangtua tidak melarang anaknya bergaul : 1 Takut anak terjurumus ke lingkungan buruk (bergaul dengan anak2 berandalan, pemabuk). 2 Takut akan keselamatan anak / risiko yang terjadi di luar (seperti kecelakaan). 3 Karna anak kesayangan atau anak tunggal. (orang tua tidak mau kehilangan anaknya). Apa yang sebaiknya dilakukan ? Sebagai mahkluk sosial, kita wajib berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan. Ajaklah ia bertetangga dan biarlah ia bermain bersama-sama dengan anak-anak tetangga yang sebaya. Lakukan berbagai permainan bersama, seperti sepak bola, bola bakset, bersepeda, dan lain2. Sehingga anak bisa berinteraksi, termasuk orang yang baru dikenalnya. Jika lingkungannya tidak nyaman, bahwa saja anak ke taman bermain anak-anak, atau ke tempat saudara yang punya anak. Ajarkan etika bergaul agar anak sukses mengarungi dunia pergaulan. Kejujuran, saling menolong, bekerja sama. Empati merupakan kunci agar anak disenangi teman-temannya.

Sabtu, 19 April 2014

KIDS STRONG FROM HOME



Edisi Pertama
Pengantar
Syalom.....
       Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi
Anak yang manis, yang tidak suka melawan atau menurut saja. Tapi  pada kenyataannya, terkadang atau bahkan sering, anak kita melakukan tindakan sebaliknya; tidak bisa duduk tenang, suka melawan, tidak mau diatur.
       Sebaliknya dari sisi anak, mereka seringkali mengahapi orang tua yang tidak konsisten dengan ucapan mereka sendiri seperti melarang anak berbohong, tapi justru orang tua mengatakan kepada anak ketika tamu datang “katakan..ya bapa tidak ada dirumah”, padahal orang tua sendiri telah mengajarkan anak berbohong kecil, dan seringkali anak mendapat perlakuan tidak hormat dari keluarga.
       Anak adalah cerminan orang tua, apa yang dilakukan orang tua, itu yang ditiru oleh anak-anaknya.
       Berdasarkan pengalaman studi saya di Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Kupang, saya mempelajari perkembangan psikologi anak, masalah perkembangan anak, perkembangan emosional anak dan cara tepat dalam mendidik anak. Saya menyajikan tulisan ini secara khusus untuk para orang tua yang susah mengatur anaknya dirumah, di lengkapi juga dengan tema menarik dan contoh-contoh kehidupan orang tua-anak dan disertai dengan firman Tuhan sebagai kekuatan iman bagi orang tua dalam mendidik anak.
Selamat Membaca...Tuhan Yesus Memberkati
    
      Penulis

  Astian Leba
  (Guru PAR )


                               Memberikan Julukan yang Buruk

       Beberapa contoh julukan pada anak, si gendut, si lemot, si cengeng, si bontot, biang kerok, anak bawel, atau bule kampong untuk seorang albino, sangat memberikan dampak negatif sangat memberikan dampak negatif bagi psikologi.
Kebiasaan memberikan julukan-julukan buruk pada anak bisa mengakibatkan rasa rendah diri, tidak percaya diri/minder, kebencian juga perlawanan. Adakalanya anak ingin membuktikan kehebatan julukan atau gelar tersebut pada orang tua. Misalnya anak diberi julukan biang kerok, maka ia akan berpikir bahwa apa yang diperbuatnya tidaklah keliru karena memang dia adalah biang kerok.

Apa yang Sebaiknya kita lakukan ?
       Gantilah segera julukan-julukan buruk dengan yang baik seperti, anak baik, anak hebat, anak bijaksana, dan jika kita tidak menemukan ganti julukan yang baik, cukup panggil dengan nama panggilan yang disukainya saja. Cobalah kita tanya pada anak kita, panggilan apa yang dia sukai. Anak pasti akan lebih menyukai kita. Seperti misalnya : Anak Papa yang hebat ko..hari ini tidak rapikan tempat tidur..jangan pakai kata, anak malas /anak babi yang identik dengan malas..itu hanya membuat dia jengkel dan mengulangi perbuatannya lagi.